Habapublik.com, Blangkejeren – Di tengah denyut aktivitas pagi yang kian sibuk, sebuah ironi terpampang jelas di ruas jalan menuju Pajak Buntul Tajuk, Kecamatan Blangkejeren. Jalan yang semestinya menjadi penggerak roda ekonomi masyarakat justru berubah menjadi titik rawan yang menguji kesabaran dan keselamatan.
Di sekitar kawasan kantor satu atap, kerusakan jalan tampak mencolok. Lubang besar menganga, nyaris mengambil separuh badan jalan. Pengendara yang melintas tak lagi sekadar berkendara, melainkan harus berhitung dengan risiko—memperlambat laju, bergantian melintas, hingga bermanuver di ruang sempit yang rawan celaka.
Situasi ini bukanlah cerita baru. Warga setempat menyebut, kerusakan tersebut telah berlangsung lama dan perlahan memburuk tanpa penanganan berarti. Ketika hujan turun, kondisi semakin genting. Genangan air menutup lubang-lubang besar, menjadikannya ancaman tersembunyi yang bisa menjebak siapa saja.
“Ini sudah sangat meresahkan. Setiap hari kami lewat sini dengan rasa was-was,” ujar seorang warga, menggambarkan kegelisahan yang kini dirasakan banyak pihak.
Lebih dari sekadar persoalan infrastruktur, ruas jalan ini adalah jalur vital menuju pusat aktivitas ekonomi, khususnya pasar pagi Buntul Tajuk yang menjadi tumpuan masyarakat. Kerusakan yang dibiarkan berlarut tak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi lokal.
Kini, suara warga kian tegas. Mereka tidak lagi sekadar mengeluh, tetapi mendesak hadirnya solusi konkret. Harapan sederhana: perbaikan segera dilakukan sebelum risiko yang ada benar-benar berubah menjadi musibah. Sorotan publik pun mengarah pada pemerintah daerah dan instansi terkait.
Di tengah tuntutan pelayanan yang responsif, kondisi ini menjadi ujian nyata—apakah perhatian akan hadir tepat waktu, atau justru menunggu hingga keadaan memaksa? Bagi masyarakat Blangkejeren, jawabannya bukan sekadar wacana. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata—secepatnya.(*)












