Satgas PRR Dorong Jalan Jamat-Lukup Serbejadi Jadi Proyek Strategis Nasional

Satuan Tugas Percepatan Rehab Rekon (Satgas PRR) Tenaga Ahli Kementerian Dalam Negeri, Zam Zam Mubarak

*Pangkas Waktu Takengon-Langsa 4 Jam

*Permudah Ekspor Kopi Gayo

Habapublik.com, Takengon – Satuan Tugas Percepatan Rehab Rekon (Satgas PRR) Tenaga Ahli Kementerian Dalam Negeri, Zam Zam Mubarak, mendorong percepatan pembangunan akses jalan strategis Jamat, Aceh Tengah – Lukup Serbejadi, Aceh Timur.

Dorongan tersebut tertuang dalam Policy Brief Eksekutif dan Analisa Strategis Mendalam yang disusun Satgas PRR sebagai lampiran kajian untuk pemerintah pusat.

Jalan Jamat-Lukup Serbejadi diproyeksikan menjadi program akselerasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

*Urai Isolasi Tengah Aceh

Dalam kajiannya, Zam Zam Mubarak menyebut Tengah Aceh mengalami kerentanan logistik akut. Ketergantungan hingga 85 persen pada ruas jalan nasional Bireuen-Takengon yang rawan longsor kerap menyebabkan isolasi wilayah.

Kondisi itu berdampak langsung pada keterlambatan bantuan Rehab Rekon, inflasi hingga 7 persen di Takengon, dan terhambatnya mobilitas pertahanan dan keamanan.

“Tanpa jalur alternatif, Tengah Aceh menghadapi tiga ancaman sekaligus: ancaman ekonomi, kemanusiaan, dan pertahanan,” kata Zam Zam, Rabu (28/10/2026).

Jika terbangun, akses Jamat-Lukup Serbejadi diklaim akan memangkas waktu tempuh Takengon-Langsa dari 8 jam menjadi hanya 4 jam, memangkas jarak 87 kilometer, dan menekan biaya logistik hingga 40 persen.

*6 Urgensi Strategis Nasional

Satgas PRR Kemendagri merumuskan 6 urgensi strategis yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan 3 Prioritas RPJMN 2025-2029.

Pertama, ketahanan logistik nasional. Kedua, menjadi tulang punggung Kawasan Terpadu Kota Mandiri Ketapang sebagai pusat pertumbuhan baru.

Ketiga, pariwisata nasional yang menghubungkan KSPN Prioritas Danau Lut Tawar-Gayo Highland dengan Taman Nasional Gunung Leuser.

Keempat, hilirisasi investasi. Jalur ini akan membuka akses komoditas unggulan nasional seperti Kopi Arabika Gayo dan pinus menuju KEK Arun Lhokseumawe sebagai hub hilirisasi dan ekspor.

“Ini koridor industrialisasi Gayo. Nilai Kopi Gayo Rp 4,2 triliun per tahun. Dengan konektivitas langsung ke KEK Arun dan Pelabuhan Belawan, ini menjadi kunci hilirisasi komoditas unggulan nasional dan pemerataan ekonomi wilayah timur Aceh, dari Takengon hingga Langsa dan Aceh Tamiang,” ujar Zam Zam.

Kelima, pertahanan keamanan. Jalan ini dinilai menjadi jalur manuver strategis TNI sebagai alternatif logistik militer dari pesisir timur Lhokseumawe ke pedalaman Takengon jika jalur utama putus, sekaligus pendukung rencana pembangunan Batalyon baru di Aceh Tengah sebagai penyangga Selat Malaka.

Keenam, budaya sejarah, yakni menghidupkan kembali peradaban Kerajaan Linge sebagai kerajaan tertua di Aceh.

*High Impact, Low Cost

Dalam analisa SWOT yang disusun Satgas PRR, jalur Jamat-Serbejadi dinilai memiliki topografi lebih stabil dari jalur Bireuen dan merupakan jalur historis.

Menurut Zam Zam Mubarak, pembangunan Jalan Jamat-Lukup Serbejadi adalah investasi High Impact, Low Cost, Strategic Position. Satu jalan memberikan 6 manfaat nasional sekaligus.

*Dapat Respon Positif Mabes TNI

Rencana pembangunan ini telah mendapat respon positif dari Mabes TNI dan disambut antusias oleh masyarakat.

Dukungan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan jalan ini bukan hanya untuk Aceh Tengah, tetapi strategi membangun Aceh Tengah dari wilayah timur.

Langkah ini sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional di ujung barat Sumatera, menghubungkan sentra produksi Gayo dengan koridor industri dan ekspor nasional.

“Dengan konektivitas langsung ke KEK Arun dan Pelabuhan Belawan, jalan ini menjadi kunci hilirisasi dan pemerataan ekonomi Aceh sesuai RPJMN 2025-2029,” tutup Zam Zam.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *