Gayo Lues Genjot Perkebunan Kopi, GERETEK Tahap Pertama Sasar 174 Kelompok Tani

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mulai menggenjot pengembangan perkebunan kopi melalui program Gerakan Restorasi Ekonomi Kerakyatan (GERETEK). Sejak 1 November 2026, penyaluran bibit kopi mulai dilakukan dengan 174 kelompok tani sebagai penerima tahap awal. Foto: Kamsah Galus

Habapublik.com, Blangkejeren – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mulai menggenjot pengembangan perkebunan kopi melalui program Gerakan Restorasi Ekonomi Kerakyatan (GERETEK). Sejak 1 November 2026, penyaluran bibit kopi mulai dilakukan dengan 174 kelompok tani sebagai penerima tahap awal.

Program tersebut menargetkan pengembangan perkebunan kopi seluas sekitar 2.500 hektare, termasuk peremajaan tanaman kopi pada lahan kurang lebih 300 hektare. Seluruh penyaluran bibit kepada kelompok tani di Kabupaten Gayo Lues ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Gayo Lues, Ridwan SP, mengatakan penyaluran tahap pertama diprioritaskan untuk kelompok tani di empat kecamatan, yakni Blangjerango, Kutapanjang, Dabun Gelang, serta Blangkejeren dan Blangpegayon.

“Untuk tahap awal ini kita salurkan kepada kelompok tani di empat kecamatan. Selanjutnya, kecamatan-kecamatan lainnya akan menyusul. Targetnya, akhir tahun ini seluruh bibit sudah tersalurkan,” kata Ridwan kepada wartawan media ini, Senin (2/11/2026).

Menurut Ridwan, pendistribusian dilakukan secara bertahap agar bantuan dapat menjangkau kelompok tani yang telah ditetapkan sebagai penerima manfaat.

Bagi masyarakat Gayo Lues, pengembangan perkebunan kopi memiliki arti penting. Kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan salah satu sumber penghidupan keluarga petani yang turut menggerakkan perekonomian masyarakat kampung.

Melalui program GERETEK, pemerintah daerah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas perkebunan, memperluas areal tanam, serta memperkuat sektor kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang disalurkan. Kualitas bibit, ketepatan sasaran penerima, serta pendampingan teknis kepada petani harus menjadi perhatian utama.

Distanbun juga diharapkan memastikan proses penanaman dan perawatan berjalan optimal sehingga bibit yang diberikan benar-benar tumbuh dan menghasilkan.

Selain itu, keterbukaan mengenai jumlah bibit, jenis varietas, serta perkembangan realisasi penyaluran di setiap kecamatan penting dilakukan agar masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaan program.

Dengan sasaran pengembangan mencapai 2.500 hektare, GERETEK menjadi salah satu upaya yang diharapkan mampu mendorong kebangkitan perkebunan kopi Gayo Lues. Pada akhirnya, keberhasilan program ini bukan hanya ditentukan oleh tuntasnya penyaluran bantuan pada akhir tahun, melainkan oleh meningkatnya produktivitas kebun, hasil panen, dan kesejahteraan petani.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *