Daerah  

Banjir Hidrometeorologi Gayo Lues, Runtuhnya Infrastruktur di Negeri Seribu Bukit

Kepala Dinas PUPR kabupaten Gayo Lues Khairudin Kasiman .ST.

Habapublik.com, Gayo Lues: Ketika hujan turun tanpa henti dan sungai-sungai di pedalaman Gayo Lues meluap tak terkendali, yang runtuh bukan hanya tanah dan bebatuan. Infrastruktur yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat satu per satu menyerah di hadapan kekuatan alam.

Data Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gayo Lues mencatat kerusakan dalam skala mencengangkan. Sebanyak 55 titik ruas jalan rusak, sebagian terbelah, tergerus, bahkan lenyap tersapu arus banjir hidrometeorologi. Jalan-jalan yang dahulu menjadi penghubung antar kampung kini berubah menjadi jurang dan lumpur, memutus akses warga terhadap pasar, sekolah, hingga layanan kesehatan.

Kerusakan paling telanjang terlihat pada jembatan. Sebanyak 105 unit jembatan terdampak, terdiri dari 13 jembatan rangka baja, 21 jembatan komposit, 3 jembatan Bailey, 10 jembatan WF, dan 50 jembatan gantung. Beberapa jembatan roboh seketika, lainnya miring dan menggantung, menunggu waktu untuk benar-benar ambruk.

“Ini bukan sekadar kerusakan fisik. Yang terputus adalah mobilitas, ekonomi, dan rasa aman masyarakat,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gayo Lues, Chairudin Kasim, ST, dengan nada prihatin, Senin (5/1/2025).

Di sektor pertanian, dampak bencana terasa sunyi namun mematikan. Sebanyak 60 jaringan irigasi rusak, menghentikan aliran air ke sawah dan kebun. Bagi petani, rusaknya irigasi berarti ancaman gagal tanam dan hilangnya sumber penghidupan di tengah ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, 58 titik penahan tebing yang selama ini menjadi benteng terakhir dari abrasi sungai dilaporkan hanyut diterjang derasnya arus banjir. Tanpa penahan tebing, badan jalan dan permukiman warga kini berada dalam ancaman longsor susulan setiap kali hujan turun.

Chairudin menegaskan, bencana ini memperlihatkan betapa rentannya wilayah Gayo Lues yang berada di kawasan pegunungan dengan karakter sungai berarus cepat dan kontur tanah labil.

“Banjir hidrometeorologi ini seperti membuka luka lama. Tanpa penguatan infrastruktur dan mitigasi yang serius, kerusakan akan terus berulang,” ujarnya.

Hingga kini, pemerintah daerah masih berjibaku melakukan penanganan darurat—membuka akses sementara, membangun jembatan darurat, dan membersihkan material banjir. Namun keterbatasan anggaran membuat upaya ini berjalan tertatih.

Bagi masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang mendapat julukan Negeri Seribu Bukit, bencana ini bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah pengingat pahit bahwa di daerah-daerah terluar, pertarungan melawan alam sering kali harus dihadapi dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya siap.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *