Habapublik.com, Blangkejeren: Derasnya air sungai yang berubah menjadi amukan mematikan memutus harapan dan akses hidup warga Desa Pepalan, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Rabu sore (26/11/2025).
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah ini selama tiga hari tanpa henti memicu banjir besar yang merobohkan jembatan gantung, satu-satunya jalur penghubung warga, bahkan menyeret empat orang ke dalam arus deras.
Peristiwa memilukan ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Debit air yang tiba-tiba melonjak drastis membuat struktur jembatan tak mampu lagi menahan tekanan. Dalam hitungan detik, jembatan ambruk, dan empat warga yang berada di atasnya ikut terseret ke sungai yang bergemuruh seperti kehilangan kendali.
Kepala Desa Pepalan dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial menyampaikan dengan suara bergetar bahwa empat warganya terbawa arus. Hingga malam hari, dua korban berhasil ditemukan, sementara dua lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari di tengah gelap dan derasnya aliran sungai.
Tangis dan kepanikan menyelimuti lokasi kejadian. Warga beramai-ramai turun ke bantaran sungai, menyisir arus dengan peralatan seadanya, berpacu dengan waktu dan cuaca yang belum juga bersahabat. Tim gabungan bersama aparat desa terus melakukan pencarian, memperluas area penyisiran ke titik-titik yang dicurigai menjadi lokasi korban tersangkut.
“Air datang sangat cepat. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tiba-tiba jembatan sudah runtuh dan orang-orang hilang,” ujar salah satu warga dengan nada penuh kecemasan sebagaimana dikutip wartawan Habapublik.com, Rabu malam (25/11/2025).
Pemerintah desa mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Dabun Gelang. Warga juga diminta segera melapor apabila melihat tanda-tanda keberadaan korban atau hal mencurigakan di sekitar sungai.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung. Langit Pepalan masih diselimuti awan gelap, seakan turut menyimpan duka dan doa bagi mereka yang belum kembali. Harapan belum padam, namun waktu dan arus menjadi tantangan besar dalam misi kemanusiaan ini.(*)












