Alumni IAIN Takengon, Jaringan Kekuatan yang Menyatu dalam Jiwa Kampus

Suasana pelantikan Pengurus Ikatan Alumni IAIN Takengon periode 2025–2028, Kamis (2/7/2026), di Ruang Rapat Pimpinan IAIN Takengon. Foto: Riyan.

Habapublik.com, Takengon – Sore itu, Kamis (2/7/2026), Ruang Rapat Pimpinan IAIN Takengon dipenuhi semangat kebersamaan. Di antara para alumni berdiri tegak mengenakan pakaian adat yang mencerminkan identitas daerah.

Suasana khidmat menyelimuti pelantikan Pengurus Ikatan Alumni IAIN Takengon periode 2025–2028, sebuah momen yang bukan sekadar seremonial, tetapi simbol ikatan batin antara kampus dan para lulusan yang pernah menimba ilmu di sana.

Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan, M.C.L, berbicara dengan nada penuh keyakinan. “Kampus tidak bisa berjalan sendiri. Kampus harus punya jaringan, dan yang mengurus jaringan itu adalah alumni yang punya ikatan luar biasa dengan kampus,” ujarnya.

Kata-kata itu menggema di ruangan, seolah menegaskan bahwa kekuatan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya terletak pada gedung dan kurikulum, tetapi juga pada jejaring manusia yang tumbuh dari rahimnya.

Rektor mencontohkan bagaimana di luar negeri, alumni menjadi kemajuan kampus. “Di Amerika, gedung bisa ditunjuk milik alumni angkatan sekian. Di perpustakaan, ada blok khusus dengan ribuan buku sumbangan alumni. Itu bukti ikatan yang nyata,” katanya.

Ia berharap semangat itu juga tumbuh di Takengon, kota kecil yang kini menjadi pusat pendidikan Islam di dataran tinggi Gayo.

Di sisi lain, Wahdi, S.Ag., MA, yang baru saja dilantik sebagai Ketua Pengurus Alumni, menyampaikan rasa terima kasih dan harapan besar.

“Kami berterima kasih kepada rektor dan seluruh civitas akademik atas kepercayaan ini. Mudah-mudahan di masa kepemimpinan kami, alumni bisa memberikan kontribusi nyata — baik pemikiran maupun tindakan,” tuturnya.

Wahdi menatap masa depan dengan optimisme. Ia yakin, alumni IAIN Takengon akan menjadi bagian penting dalam transformasi kampus menuju Universitas Islam Negeri (UIN).

“Kami ingin IAIN Takengon berdampak lebih luas, menjawab tantangan pendidikan di wilayah tengah Aceh, dan mampu bersaing di tingkat nasional serta internasional,” ujarnya penuh semangat.

Pelantikan itu bukan hanya tentang nama-nama yang tercantum dalam surat keputusan, tetapi tentang semangat kolektif untuk membangun. Di antara senyum dan jabat tangan, tersirat tekad untuk menjaga ikatan yang telah terjalin ikatan yang tidak memerlukan perintah, karena tumbuh dari rasa memiliki yang mendalam.

Sore pun beranjak menuju senja, namun cahaya di wajah para alumni tetap menyala. Mereka tahu, perjalanan membesarkan kampus ini baru saja dimulai dan mereka adalah jaringannya, kekuatannya, serta penjaga semangatnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *