Daerah  

Lesten Desa Terpencil di Gayo Lues, Memprihatinkan Butuh Perhatian Pemerintah

Kondisi jalan untuk menuju ke desa Lesten Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Foto/Kamsah Galus.

Laporan: Kamsah Galus

Habapublik.com, Blangkejeren: Di balik heningnya alam di Kabupaten Gayo Lues, ada sebuah desa bernama Lesten di Kecamatan Pining. Desa ini ibarat permata yang berdebu dan cantik, namun tersembunyi dalam ketidakpedulian pemerintah.

Jalan menuju Lesten memang ada, tetapi seakan hanya menjadi bukti setengah hati. Dari 18 kilometer jarak tempuh, 8 kilometer diantaranya kondisi rusak parah, membuat perjalanan bukan lagi sekadar sulit, melainkan penderitaan yang terus diwariskan.

Di bidang pendidikan, anak-anak Lesten tumbuh dengan keterbatasan. Gedung sekolah berdiri, tetapi rapuh. Fasilitas seadanya membuat harapan akan masa depan lebih baik sering kali terasa jauh. Bagaimana mungkin generasi emas bisa lahir dari ruang belajar yang penuh kekurangan?

Persoalan kesehatan lebih memilukan. Untuk sekadar mendapatkan layanan medis, warga harus menempuh perjalanan panjang—sekitar 18 kilometer ke Ibukota Kecamatan Pining.

Gapura desa Lesten Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Foto/Kamsah Galus.

Di atas jalan yang rusak itu, nyawa sering kali dipertaruhkan. Bagi masyarakat kota, 18 kilometer hanyalah hitungan menit. Bagi warga Lesten, jarak itu bisa berarti penentu antara hidup dan mati.

Ironisnya, Lesten bukan desa tanpa potensi. Alamnya menawan, hutan hijau yang memeluk bukit, udara sejuk yang menyapa, dan lanskap yang bisa menjadi magnet wisata. Tetapi semua keindahan itu hanya menjadi latar bagi cerita keterasingan, karena perhatian pemerintah masih setengah hati.

Lesten adalah wajah dari desa terpencil yang selalu tersisih dari prioritas pembangunan oleh pemerintah kabupaten. Ia cantik, tetapi terabaikan. Ia kaya, tetapi dimiskinkan oleh kebijakan yang tak berpihak.

Selama jalan dibiarkan rusak, sekolah tetap seadanya, dan kesehatan hanya bisa dijangkau dengan penderitaan, maka Lesten akan terus menjadi simbol luka dari janji pembangunan yang tak pernah benar benar hadir.(*)

*Kamsah Galus, Wartawan Media Habapublik.com di Gayo Lues.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *