Daerah  

Daerah Terisolir di Gayo Lues Keterbatasan Listrik dan Jaringan Komunikasi Terganggunya Layanan Kesehatan

Plt Kadis Kesehatan Kabupaten Gayo Lues, Bir Ali, SKM.

Habapublik.com, Blangkejeren: Di balik sunyinya wilayah pegunungan Kabupaten Gayo Lues, tenaga kesehatan terus berjuang menjaga nyawa masyarakat di daerah-daerah yang hingga kini masih terisolir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues, Bir Ali, SKM, mengungkapkan betapa beratnya tantangan pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan akses listrik, dan jaringan komunikasi.

“Kami bukan hanya menghadapi keterbatasan obat dan alat kesehatan, tapi juga menghadapi jarak, gelap, dan sunyi. Ada saat-saat ketika tenaga medis harus tetap melayani warga meski tanpa listrik dan tanpa sinyal,” tutur Bir Ali dengan nada prihatin, Senin (22/12/2025).

Menurutnya, salah satu kendala paling krusial adalah kesulitan membawa logistik obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), termasuk menurunkan tim medis ke wilayah terisolir.

“Akses darat yang rusak dan cuaca yang tidak menentu membuat perjalanan menuju lokasi kerap memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari,”tuturnya.

Di beberapa puskesmas, aliran listrik terputus total. Kondisi ini memaksa tenaga kesehatan memberikan pelayanan dalam keterbatasan, terkadang hanya mengandalkan cahaya senter atau lampu darurat.

“Bayangkan seorang ibu datang membawa anaknya yang demam tinggi pada malam hari, sementara listrik padam dan alat kesehatan tidak bisa digunakan secara maksimal. Ini situasi yang sangat menguras emosi dan tenaga petugas kami,” ujarnya.

Tak hanya itu, terputusnya jaringan seluler membuat komunikasi dengan pihak kabupaten hampir mustahil. Saat kondisi darurat terjadi, laporan sering terlambat disampaikan karena tidak ada sinyal.

“Ketika sinyal hilang, kami seperti terputus dari dunia luar. Padahal di saat yang sama, ada warga yang sangat membutuhkan pertolongan cepat,” kata Bir Ali.

Berdasarkan kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Gayo Lues mencatat sejumlah puskesmas mendesak membutuhkan mesin genset dan perangkat komunikasi satelit seperti Starlink, agar pelayanan kesehatan tetap berjalan meski listrik dan jaringan konvensional terputus.

Sebagai bentuk ikhtiar, Dinas Kesehatan telah melaporkan kondisi wilayah terisolir kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk meminta dukungan penurunan tenaga medis serta distribusi obat-obatan melalui helikopter, khususnya ke Kecamatan Pining, yang hingga kini masih terisolir.

“Harapan kami sederhana, jangan sampai ada warga yang kehilangan nyawa hanya karena kami terlambat datang. Negara harus hadir, meski ke pelosok yang paling sunyi,” tutup Bir Ali.

Upaya lintas sektor ini diharapkan menjadi secercah harapan bagi masyarakat di wilayah terisolir Gayo Lues, bahwa di tengah keterbatasan, pelayanan kesehatan tetap diperjuangkan .(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *