Jembatan Arul Nangka Ambruk, Mobil Dinas Camat Pantan Cuaca Gayo Lues Hanyut

Mobil dinas milik Camat Pantan Cuaca hanyut terbawa arus setelah jembatan Arul Nangka, penghubung Kampung Seneren dan Kampung Kuning Kurnia, ambruk pada Kamis sore (1/1/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Foto: Kamsah.

Habapublik.com, Blangkejeren: Derasnya arus sungai kembali meninggalkan luka bagi masyarakat pedalaman Kecamatan Pantan Cuaca Kabupaten Gayo Lues.

Sebuah mobil dinas milik Camat Pantan Cuaca dilaporkan hanyut terbawa arus setelah jembatan Arul Nangka, penghubung Kampung Seneren dan Kampung Kuning Kurnia, ambruk pada Kamis sore (1/1/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.

Jembatan yang selama ini menjadi satu-satunya akses vital bagi warga setempat itu tak lagi mampu menahan gempuran derasnya air sungai akibat hujan berkepanjangan.

Dalam hitungan detik, struktur jembatan runtuh dan menyeret kendaraan dinas yang sebelumnya terparkir di sekitar lokasi, terjebak sejak beberapa pekan terakhir akibat akses jalan yang terputus.

Warga yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa terpaku. Dengan peralatan seadanya, mereka berupaya mengikat kendaraan menggunakan kawat sling agar tidak hanyut semakin jauh.

Upaya itu dilakukan secara gotong royong, di tengah keterbatasan sarana dan tanpa dukungan alat berat, mencerminkan kepedulian warga di tengah kondisi serba sulit.

Camat Pantan Cuaca, Abdul Gani, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut kejadian ini sebagai potret nyata betapa rapuhnya infrastruktur di wilayah pedalaman yang selama ini bergantung pada alam dan cuaca.

“Ini bukan sekadar hilangnya satu unit kendaraan dinas. Ini gambaran nyata kondisi wilayah kami. Ketika hujan turun deras, akses terputus, pelayanan pemerintahan ikut lumpuh. Kami sangat berharap adanya perhatian dan penanganan serius, baik untuk evakuasi kendaraan maupun perbaikan infrastruktur agar aktivitas masyarakat bisa kembali normal,” ujarnya dengan nada prihatin.

Peristiwa ini kembali menyentak kesadaran banyak pihak bahwa di balik pembangunan yang terus digembar-gemborkan, masih ada wilayah yang bertahan dengan fasilitas seadanya.

Bagi masyarakat Pantan Cuaca dan sekitarnya, jembatan bukan sekadar bangunan penghubung—melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari.

Tanpa penanganan yang cepat dan berkelanjutan, kejadian serupa dikhawatirkan akan terus berulang, meninggalkan warga dalam keterisolasian dan ketidakpastian.

Di tengah derasnya arus sungai, harapan masyarakat setempat kini tertambat pada hadirnya perhatian nyata dari pemerintah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *