STIK Pante Kulu Gelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Hutan Pendidikan Kota Jantho

Ketua Panitia Dr. Ruskhanidar, S.Hut, M.P. dan civitas akademika STIK Pante Kulu Darussalam, Banda Aceh foto bersama masyarakat gampong Boeng Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar. Foto/Ist.

Habapublik.com, Kota Jantho: Kebutuhan lahan untuk masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini sesuai dengan laju pertambahan penduduk yang semakin hari semakin meningkat.

Menurut catatan BPS saat ini penduduk provinsi Aceh berjumlah 5.623.454 jiwa, dan tidak diketahui dengan pasti jumlah penduduk yang mendiami desa sekitar hutan.

Masyarakat membutuhkan lahan untuk perumahan, petanian dan perkebunan. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian dan perkebunan tersebut masyarakat kerap kali melakukan perambahan hutan.

Hutan pendidikan STIK di Jantho merupakan salah satu kawasan hutan yang sering mengalami perambahan hutan yang dilakukan masyarakat yang mendiami sekitar kawasan hutan tersebut.

Hutan Pendidikan merupakan kawasan hutan yang ditetapkan pemerintah dengan tujuan khusus (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus, untuk menunjang Tri Dharma Perguran Tinggi, meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Untuk kegiatan Pengabdian kepada masyarakat pada tahun ini (tahun akademik 2024/2025) Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu mengadakan pengabdian kepada masyarakat di hutan pendidikan.

Adapun Tema yang diangkat untuk kegiatan pengabdian tersebut adalah teknik pengembangan barier ekologi untuk menekan laju perambahan hutan pendidikan STIK Jantho.

Ketua Panitia Dr. Ruskhanidar, S.Hut, M.P. dan civitas akademika STIK Pante Kulu Darussalam, Banda Aceh foto bersama masyarakat gampong Boeng Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar. Foto/Ist.

Pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Dr. Ruskhanidar, S.Hut, M.P. Acara ini dilakukan bersama masyarakat gampong Boeng dan civitas akademika STIK Pante Kulu Darussalam, Banda Aceh.

Menurut ketua pelaksana Barier ekologi ini dibangun dengan menanami sejumlah pohon dari jenis aren (Arenga pinnata), Kemiri dan pinus (pinus mercusii).

Adapun tujuan dari pengembangan barier ekologi ini, untuk memperjelas batas hutan pendidikan dengan lahan masyarakat, dan juga untuk melindungi areal pertanian masyarakat dari gangguan satwa primata terutama dari kelompok monyet.

Lahan perkebunan dengan tanaman seusim dan tanaman penghasil buah yang dibuduidayakan petani seringkali dijadikan satwa primata sebagai tempat mencari maka, akibatnya petani sering dirugikan dan apada akhirnya terjadi konflik antara masyarakat dengan satwa primata.

Oleh karena itu untuk mengantisipasi konflik tersebut ketua pelaksana memilih Jenis pohon yang tidak disukai kelompok satwa primata. untuk ditanami pada barier ekologi tersebut. Jenis pohon aren, kemiri dan pinus merupakan jenis pohon yang bukan sumber pakan utama Satwa primata.

Selain itu acara ini juga untuk memperkuat silaturahmi antara STIK Pante Kulu dengan masyarakat Gampong Bueng kecamatan Kota Jantho Aceh Besar. Kegiatan pengabdian juga menjadi ajang transfer ilmu untuk masyarakat.

Pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung selama dua hari yakni tanggal 23- 24 Agustus 2025 bertempat di hutan pendidikan gampong Bueng Jantho Aceh Besar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *