Habapublik.com, Aceh Barat — Kegiatan rutin mingguan AKQ – Akademi Kehidupan Qur’ani bersama Jama’ah Beut Droe melalui Gerakan 15 Menit Membaca kembali digelar di Teugu Teuku Umar, Batee Puteh, Aceh Barat, pada Minggu pagi, (30/5/2026).
Pengkajian yang telah berlangsung secara rutin tersebut terus menunjukkan perkembangan yang positif dan semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain meningkatnya jumlah jama’ah laki-laki, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen, wartawan, pegiat masyarakat, jama’ah dari berbagai majelis pengajian, hingga peserta dari luar daerah.
Menariknya, salah seorang peserta yang hadir merupakan seorang wartawan yang sebelumnya pernah berkiprah sebagai artis di Jakarta.
Pada pekan ini, AKQ mengangkat tema “Qurban: Antara Menyembelih Hewan dan Menyembelih Keakuan”
Tema tersebut dipilih sebagai bagian dari refleksi yang masih relevan dalam suasana Idul Adha. Jama’ah diajak memahami bahwa hakikat qurban tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan, tetapi juga tentang kesiapan manusia mengorbankan ego, kesombongan, keterikatan dunia, serta segala sesuatu yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah.
Dalam forum tersebut, jama’ah membedah buku karya Ustadz Syamsul Kamal yang mengangkat refleksi tentang makna qurban, keikhlasan, kepemilikan, dan penghambaan kepada Allah.
AKQ menilai bahwa qurban merupakan salah satu ibadah yang tidak hanya mengandung dimensi fikih dan syariat, tetapi juga memiliki pesan pendidikan jiwa yang sangat mendalam.
Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran salah seorang jama’ah bernama Rahmat yang berasal dari Kabupaten Nagan Raya. Rahmat kembali hadir setelah sebelumnya mengikuti beberapa pertemuan AKQ dan merasakan manfaat dari pembelajaran yang disampaikan.
Rahmat mengaku pada awalnya hanya kebetulan melintas dan menganggap kegiatan AKQ sebagai pertemuan biasa.
Namun setelah memutuskan untuk duduk dan mengikuti kegiatan sekitar 30 menit pada salah satu pertemuan sebelumnya, ia mengaku memperoleh pengalaman yang berbeda.
“Awalnya saya menganggap ini hanya pertemuan biasa. Saya cuma kebetulan lewat dan mencoba ikut duduk. Tapi setelah sekitar 30 menit mengikuti, saya merasa pembahasannya seperti masuk ke kepala dan juga masuk ke hati. Yang membuat saya tertarik, pembahasannya terasa dekat dengan kehidupan, mudah dipahami, dan mudah diaplikasikan, tidak rumit,” ungkap Rahmat.
Dalam pengkajian tersebut, peserta diajak membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan makna qurban dalam kehidupan, mulai dari:
– hakikat pengorbanan dalam Islam;
– keikhlasan dalam beribadah;
– melepaskan keterikatan selain Allah;
– memahami makna kepemilikan yang sebenarnya;
– hingga bagaimana menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.
Sebagaimana kegiatan sebelumnya, forum diawali dengan membaca lima ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya, membaca tiga hadis beserta maknanya, Gerakan 15 Menit Membaca, sharing pembelajaran dan refleksi kehidupan, serta ditutup dengan zikir dan doa bersama.
Ustadz Syamsul Kamal mengatakan bahwa AKQ dibangun dengan semangat sinergi dan terbuka bagi seluruh kalangan tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun kelompok tertentu.
“Prinsip kita sederhana, semua orang sama, semua kita anggap narasumber, dan yang menjadi objek utama bukan manusianya, tetapi kajiannya. Karena hikmah dan pelajaran hidup tidak selalu datang dari orang yang paling banyak bicara, tetapi bisa Allah hadirkan melalui siapa saja,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.
Menurutnya, momentum Idul Adha seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum penyucian hati, evaluasi diri, dan pembaruan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
“Kadang yang perlu kita sembelih bukan hanya hewan qurban, tetapi juga ego, kesombongan, rasa memiliki yang berlebihan, dan segala sesuatu yang menghalangi kedekatan kita dengan Allah,” tambahnya.
Melalui kegiatan rutin tersebut, AKQ berharap dapat menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membantu masyarakat membangun ketahanan batin, kejernihan berpikir, serta kedekatan kepada Allah dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari.(*)












