Ragam  

Konservasi Dugong Pertama di Aceh, Natural Aceh dan Yayasan KEHATI Tanam Lamun di Lamreh

Praktisi Spesies Dugong, Dr. Audrie J. Siahainenia sedang memberikan arahan sebelum melaksanakan penanaman lamun di Kawasan Padang Lamun, Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (11/7/2026). Foto: Irwansyah

Habapublik.com, Kota Jantho – Natural Aceh bekerja sama dengan Yayasan KEHATI menggelar praktik penanaman lamun di Kawasan Padang Lamun, Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian ekosistem laut sekaligus mendukung konservasi dugong melalui perlindungan habitat alaminya.

Direktur Program Yayasan KEHATI, Dr. Rony Megawanto, mengatakan bahwa pelestarian padang lamun memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan dugong karena lamun merupakan sumber pakan sekaligus habitat utama mamalia laut yang dilindungi tersebut.

“Dengan melestarikan padang lamun, pada dasarnya kita juga sedang melestarikan dugong. Kami mendapat informasi dari warga di sini bahwa beberapa kali mereka melihat dugong. Karena itu, hari ini kami melihat lebih mendalam kondisi padang lamun untuk memastikan laporan masyarakat tersebut,” ujar Rony.

Ia menjelaskan, Natural Aceh telah mengembangkan sebuah platform pelaporan yang memungkinkan masyarakat melaporkan setiap kali melihat dugong di perairan Aceh. Laporan tersebut akan diterima secara real time, sehingga memudahkan proses pemantauan dan pengumpulan data.

“Teman-teman Natural Aceh sudah membuat platform pelaporan. Jika ada warga yang melihat dugong, mereka bisa langsung melaporkannya dan datanya dapat dipantau secara real time. Ini pertama kali dilakukan di Aceh, bahkan menjadi program konservasi ekosistem pertama yang secara khusus mendukung konservasi dugong,” katanya.

Rony juga mengajak masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa, untuk terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian guna meningkatkan kualitas ekosistem padang lamun di kawasan tersebut.

“Kami mengajak masyarakat, terutama dari kampus, untuk melakukan penelitian di kawasan ini. Harapannya kualitas padang lamun semakin baik sehingga dugong merasa nyaman dan tetap menjadikan kawasan ini sebagai habitatnya,” ungkapnya.

Menurutnya, terdapat sejumlah ancaman yang dapat merusak ekosistem lamun, di antaranya pencemaran limbah yang menyebabkan lamun mengalami stres hingga mati, aktivitas pembangunan di kawasan pesisir, serta lalu lintas kapal dan jangkar yang dapat merusak hamparan lamun.

“Rumah pertama dugong adalah padang lamun. Jika lamun rusak, maka dugong akan menjauh dan mencari kawasan lain yang kualitas padang lamunnya lebih baik,” jelasnya.

Untuk itu, Yayasan KEHATI bersama Natural Aceh akan terus melakukan monitoring secara berkala terhadap kondisi padang lamun. Hasil pemantauan tersebut nantinya akan disampaikan kepada instansi pemerintah sebagai bahan pengambilan kebijakan dalam upaya pelestarian ekosistem pesisir.

Rony menegaskan bahwa padang lamun memiliki manfaat yang sangat besar, tidak hanya sebagai habitat berbagai biota laut, tetapi juga sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang sangat efektif.

“Lamun memiliki kemampuan menyimpan blue carbon yang sangat efektif, bahkan lebih efektif dibandingkan hutan tropis. Selain itu, lamun menjadi tempat hidup ikan-ikan kecil, berbagai jenis ikan bernilai ekonomis, serta habitat bagi dugong, penyu, dan berbagai biota laut yang terancam punah,” ujarnya.

Praktisi Spesies Dugong, Dr. Audrie J. Siahainenia mengungkapkan, saat ia menyelam melihat Lamun yang tumbuh di Padang Lamun tampak sudah dimakan Dugong. Hal ini semakin ia yakini setelah mewawancarai beberapa nelayan sekitar yang melihat keberadaan Dugong di sekitar lokasi pada sore hari.

“Beberapa hari lalu ada informasi dari nelayan mereka melihat di sekitar lokasi ini tentang adanya Dugong. Oleh karena itu ini adalah tempat yang sangat strategis untuk budidaya Lamun, karena tempat ini sangat tepat untuk diperbanyak atau diperluas dengan metode penanaman atau transplantasi lamun.

Dengan konservasi ini, diharapkan seluruh masyarakat untuk menjaga padang lamun di Aceh dan di Indonesia, termasuk seluruh biota yang hidup di dalamnya, salah satunya dugong. Menjaga lamun berarti menjaga masa depan ekosistem laut.

Penanaman lamun tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Program Yayasan KEHATI Dr. Rony Megawanto, Praktisi Spesies Dugong Dr. Audrie J. Siahainenia, Akademisi & Praktisi Konservasi Padang Lamun Khairunnisa, S.Pi., M.Si. dan para tim dari Natural Aceh yang sudah memiliki sertifikasi menyelam dibawah air.

Perkembangan lamun hasil transplantasi akan dipantau secara berkala selama enam bulan ke depan untuk mengetahui tingkat keberhasilannya sebagai habitat dugong. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *