Kisah Khairatun Hisan Ikut Jejak Sang Ayah

Khairatun Hisan

Habapublik.com, Sabang – Khairatun Hisan masih berusia 5 tahun saat ayahnya (almarhum ustad Nuvrizal) meninggal dunia. Dia tidak punya banyak memori tentang ayahnya, kata ibu dan orang-orang di sekelilingnya, ayahnya orang yang saleh dan pintar.

“Almarhum adalah Imam di Masjid Agung Babussalam Kota Sabang, Hafiz 30 Juz. Selain itu almarhum juga salah satu pelatih tafsir Bahasa Inggris, sekaligus menjadi juri MTQ tingkat provinsi cabang tafsir” ujar Eriadi, rekan seperjuangan almarhum.

Selepas shalat Subuh, saat sebagian besar orang masih menikmati pagi. Ira, panggilan akrab Khairatun Hisan, sudah duduk di hadapan ibunya. Ia mengulang hafalan Al-Qur’an, sementara sang ibu menyimak dengan sabar. Setelah murajaah selesai barulah ia bersiap berangkat ke sekolah.

Rutinitas itu dijalani siswa kelas 11 MAN Sabang ini hampir setiap hari. Dari ketekunan yang berulang itulah lahir deretan prestasi yang kini membuat namanya dikenal di Sabang, bahkan di tingkat Provinsi Aceh.

Prestasi Ira tidak muncul tiba-tiba. Pada 2024, ketika masih duduk di MTsN Sabang, ia meraih Juara I Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat Provinsi Aceh untuk jenjang MTsN. Pada 2026, kini sebagai siswa MAN, ia kembali menembus podium OBA tingkat provinsi dengan Juara II.

Ia tidak berhenti di bahasa. Pada tahun yang sama, Ira meraih Juara I Olimpiade Matematika dan IPA bidang fisika (OMI) tingkat Kota Sabang jenjang SMA/MA. Di luar lomba, ia telah menghafal 6 juz Al-Qur’an, aktif di OSIM, dan terlibat di sejumlah organisasi lain.

Jadwal Ira padat, dan hampir seluruhnya diisi belajar. Setelah murajaah pagi dan berangkat sekolah, ia mengikuti bimbingan dengan guru pembimbing bahasa Arab maupun fisika bila ada jadwal. Sepulang sekolah, ia belajar lagi. Malamnya, ia mengaji kitab di balai pengajian.

Apa yang membuat Ira begitu giat?

“Saya takut ketika besar nanti tidak jadi apa-apa, tidak jadi seseorang, tidak berguna. Jadi saya perbanyak bidang yang saya ikuti supaya punya banyak opsi ketika lulus MAN, mau kuliah di mana dan seperti apa,” tuturnya.

Ia juga sengaja menantang diri dengan hal-hal baru. Baginya, kompetisi adalah cara melatih pikiran agar lebih terbuka. “Kita harus ada tujuan. Kita di madrasah hari ini untuk apa? Perbanyak mengikuti hal-hal positif, baik di madrasah maupun di luar madrasah,” katanya.

Kepala MAN Sabang Saddam Khadafi SPd MPd terus memotivasi Ira agar memberikan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Ia mengingatkan bahwa perubahan hanya akan datang jika seseorang mau mengubah dirinya sendiri. Bimbingan rutin dari guru bahasa Arab dan fisika di madrasah menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Sebagai madrasah di bawah naungan Kementerian Agama, MAN Sabang memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat akademik sekaligus nilai keagamaan, dua hal yang berjalan beriringan dalam keseharian Ira.

Di tengah prestasi yang terus bertambah, Juliana, sang ibu, berpesan agar Ira tetap rendah hati, tidak membanggakan diri, dan selalu bersyukur kepada Allah. Pesan itu ia pegang erat.

Perjalanan Khairatun Hisan menunjukkan bahwa keterbatasan tidak harus menjadi batas. Dengan disiplin, doa ibu, dan dukungan lingkungan yang tepat kita bisa melangkah jauh.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *