Habapublik.com, Takengon – Universitas Teuku Umar (UTU) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2027 di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (30/10/2026). Rapat kerja ini menjadi forum evaluasi capaian program dan anggaran tahun 2026 sekaligus penyusunan rencana kerja dan anggaran setiap unit untuk tahun 2027.
Raker diikuti pimpinan biro, fakultas, lembaga, dan unit penunjang akademik di lingkungan UTU. Selama kegiatan, masing-masing unit kerja akan memaparkan capaian pelaksanaan program dan penggunaan anggaran tahun 2026 sebagai bahan evaluasi serta perumusan program berikutnya.
Selain mengevaluasi kinerja, forum ini membahas penyelarasan program dan anggaran seluruh unit kerja agar pelaksanaannya pada 2027 sejalan dengan arah kebijakan dan sasaran strategis universitas.
Pembukaan Raker dihadiri Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si., bersama jajaran Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten (SKPK) Aceh Tengah. Hadir pula Dewan Penyantun UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, S.E., MBA., dan Dr. (HC) H. T. Alaidinsyah, serta jajaran pimpinan dan tenaga kependidikan UTU.
Ketua Panitia Raker, Zulfirman, S.E., M.Si., yang juga menjabat Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum UTU, dalam laporannya menyampaikan bahwa rapat kerja menjadi ruang bagi seluruh unit untuk menyampaikan hasil pelaksanaan program sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki dalam perencanaan tahun berikutnya.
Menurutnya, evaluasi pelaksanaan program dan anggaran 2026 diperlukan agar penyusunan rencana kerja 2027 didasarkan pada capaian, kebutuhan, serta target kinerja masing-masing unit. Dengan demikian, program yang dirancang memiliki keterkaitan dengan prioritas dan sasaran pengembangan universitas.
Rektor UTU, Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Raker 2027 mengusung tema “Perencanaan Berbasis Kinerja Menuju UTU Gemilang: Agro-Maritim Berdampak dan Berdaya Saing Global.”
Ia mengatakan, pemilihan Takengon sebagai lokasi Raker juga memiliki keterkaitan dengan karakteristik wilayah Aceh yang memiliki potensi agro dan maritim. Potensi tersebut menjadi landasan pengembangan keunggulan akademik UTU.
“Dari Takengon, negeri kopi Gayo, hingga pesisir Meulaboh, Aceh memiliki kekuatan agro dan maritim yang menjadi keunggulan UTU. Tugas kita dua hari ini adalah memastikan setiap rupiah anggaran 2027 bekerja untuk kinerja dan dampak sesuai dengan Renstra Kemendiktisaintek, yakni transformatif dan berdampak, bukan sekadar untuk kegiatan saja,” kata Nyak Amir.
Rektor juga mengingatkan bahwa penyusunan rencana kerja universitas berlangsung di tengah perubahan besar dalam pendidikan tinggi.
Ia mengidentifikasi lima megatren yang perlu menjadi perhatian seluruh unit kerja, yaitu transformasi digital dan kecerdasan buatan; pergeseran transfer ilmu menjadi penciptaan nilai ekonomi dan sosial; akuntabilitas dampak berbasis data; masifikasi dan diversifikasi pendidikan; serta internasionalisasi yang selektif.
Menurutnya, transformasi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara perguruan tinggi menyelenggarakan pembelajaran, penelitian, dan tata kelola.
Sementara itu, keunggulan perguruan tinggi juga semakin ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan nilai melalui riset terapan, hilirisasi, dan kewirausahaan.
Perguruan tinggi, lanjutnya, juga dituntut menunjukkan dampak kinerja yang terukur. Capaian tidak cukup dilihat dari jumlah publikasi dan sitasi, tetapi perlu mencakup keterserapan lulusan, kontribusi terhadap kebijakan, serta manfaat bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Kelima megatren ini kami rangkum dalam lima kata kunci, yakni kampus berbasis data (data-driven campus), penciptaan nilai (value creation), dampak yang terukur (measurable impact), akses yang lebih luas, serta langkah yang strategis dan selektif,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si., menyampaikan pentingnya kemitraan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pembangunan.
Ia menilai kampus memiliki sumber daya keilmuan, tenaga ahli, dan hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan serta menjalankan program pembangunan.
Ia berharap hubungan UTU dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pemerintah daerah, menurutnya, terbuka untuk berkolaborasi dengan UTU, khususnya dalam pengembangan potensi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertanian, dan sektor unggulan lainnya.
Haili Yoga juga mendorong agar hasil kajian dan penelitian perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari penyelesaian persoalan di daerah. Dengan dukungan akademisi, kebijakan pemerintah diharapkan memiliki landasan ilmiah dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Dr. (HC) H. T. Alaidinsyah yang membuka secara resmi kegiatan Raker menyampaikan bahwa perkembangan UTU membutuhkan dukungan bersama, baik dari kalangan internal kampus, pemerintah, maupun masyarakat.
Menurutnya, UTU merupakan perguruan tinggi yang tumbuh bersama masyarakat Aceh Barat dan kawasan pantai barat selatan Aceh sehingga kemajuan institusi tersebut juga menjadi bagian dari harapan masyarakat.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap berbagai upaya pengembangan UTU. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui partisipasi, kerja sama, serta kepercayaan terhadap peran universitas dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Alaidinsyah berharap UTU terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang mampu melahirkan sumber daya manusia berkualitas dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi daerah.
Ia juga berharap visi UTU Gemilang dapat diwujudkan melalui kerja nyata seluruh sivitas akademika dengan dukungan masyarakat.
Pembukaan Raker 2027 kemudian dilanjutkan dengan agenda pembahasan dan pemaparan capaian program serta anggaran dari masing-masing unit kerja pada Sabtu (31/10/2026). Hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi bahan penyusunan program dan anggaran UTU tahun 2027.(*)












