Ketika mendekati musim pilkada, sudah manjadi adat dan kebiasaan bagi kita yang ingin terpilih untuk menampilkan semua sisi baik yang kita punya, mulai dari penampilan fisik yang prima dan good looking, sampai dengan kemampuan intelektual yang mumpuni dan good thinking, berbagai program pembangunan terus saja ditawarkan kepada publik, meskipun semua itu hanya sebatas citra palsu semata, goalnya cuma satu yang memikat pemilih.
Begitupun dengan timses mereka pasti akan bekerja keras mempromosikan sisi baik dari jagoannya, baik dari sisi intelektualitas, integritas dan berbagai sisi baik lainnya, tujuannya juga sama agar jagoannya terpilih di hari H, sekalipun terkadang yang mereka sampaikan hanya bualan semu semata.
Lalu kita sebagai pemilih apa yang harus kita lakukan? Pertimbangan mana yang harus kita jadikan dasar untuk menetukan pilihan? Yang paling good looking tampilannya? Yang paling tinggi pecinya? Yang paling panjang riwayat karirnya? Yang paling panjang titel di belakang namanya? Atau bagaimana?
Satu hal yang pasti, pemimpin ideal itu hanya ada di alam fikiran, karena yang kita pilih sebagai pemimpin adalah manusia, bukan malaikat, bukan dewa.
Senang atau tidak, adalah kenyataan yang harus kita terima bahwa pemimpin ideal itu memang hanya ada dalam konsep, karena pada akhirnya kita memilih manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Meskipun demikian, meski tidak ada pilihan hang seideal yang seharusnya kita tetap akan memilih dan memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, intelektualitas dan integritas tetap menjadi langkah penting untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif dan progresif.
Berikut adalah kriteria yang perlu kita perhatikan dan layak kita pertimbangkan dalam memilih pemimpin:
Pertama paham akan persoalan yang sedang terjadi di wilayahnya, pemimpin yang kita butuhkan adalah pemimpin yang paham akar masalah di wilayah yang akan dipimpinnya.
Susah semestinya seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan mendalam tentang masalah dan tantangan spesifik yang dihadapi oleh wilayahnya, misalnya di wilayah Aceh yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, maka kita butuh pemimpin yang paham dengan persoalan yang dihadapi petani, katakanlah untuk memastikan bahwa semua area persawahan rakyat harus bisa dialiri dengan baik, semua kebutuhan petani seperti pupuk dan kebutuhan lainnya bisa tersedia dengan cukup dan harga terjangkau, semua hasil produksi pertanian bisa dijual dengan harga yang menjanjikan, sehingga pendapatan dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat.
Begitu juga dengan persoalan terkait hajat hidup publik dengan mata pencaharian lainnya, pedagang misalnya, nelayan, pedagang, pelaku industri, persoalan pendiikan, persoalan kesehatan contoh lainnya, jika pemimpin tidak paham dengan persoalan yang terjadi di wilayah kepemimpinannya maka sulit diharapkan akan mampu menghadirkan solusi untuk kesejahteraan masyarakat.
Tentunya salah satu hal yang dibutuhkan untuk memahami akar masalah yang terjadi adalah adanya mengalaman atau latar belakang yang relevan di wilayah tersebut, bukan hanya sebagai orang yang pernah memimpin, tapi juga bisa jadi mereka punya pengalaman atau minimal punya jaringan atau dikelilingi oleh orang-orang yang pernah terjun langsung ke daerah-daerah untuk dapat memahami betul persoalan yang terjadi, ini menjadi salah satu indikator penting.
Selain memahami akar masalah kita juga butuh pemimpin yang berpemikiran terbuka, yang siap mendengarkan aspirasi publik, sekalipun dari mereka yang bukan berasal dari kelompok pendukungnya atau bukan dari wilayah asalnya. Seorang pemimpin yang baik harus mampu mendengar dan mempertimbangkan berbagai pandangan dan aspirasi dari masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin itu tidak boleh anti kritik, tidak boleh baper, keterbukaan terhadap kritik dan saran merupakan kunci untuk pemerintahan yang inklusif dan responsif, apa lagi dengan sistem demokrasi hang kita anut, kritik sudah menjadi keniscayaan, oleh karena itu seorang pemimpin harus berjiwa besar untuk tidak melihat kritik sebagai tanda permusuhan, tapi kritik harus dilihat sebagai masukan atau pengingat bahwa ada hal yang harus dikoreksi dan diperbaiki di pemerintahannya.
Faktor lain yang juga harus kita pertimbangkan adalah soal kemampuan Intelektual, ini sama sekali tidak semata-mata dilihat dari seberapa panjang gelar atau titel sarjana yang dilekatkan di belakang namanya.
Tapi lebih dari kemampuan seorang pemimpin dalam mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang akan dia pimpin. Artinya pemimpin harus memiliki kapasitas intelektual yang memadai untuk menganalisis masalah secara mendalam dan mencari solusi yang efektif.
Kemampuan berpikir kritis dan strategis dari seorang pemimpin sangat penting untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan publik yang terjadi di bawah kepemimpinannya, kehadiran orang-orang baik dan punya kapasitas intelektual yang memadai di sekelilingnya tentu akan punya peran tersendiri.
Seorang pemimpin yang berpemikiran terbuka dan mampu berfikir secara kritis dan strategis tentu akan lebih mudah menerima masukan yang progressif untuk mempercepat penyelesaian persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang dipimpinnya
Selain faktor intelektualitas, faktor Integritas Moral tentu menjadi salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan. Hal ini penting untuk memastikan pemimpin yang terpilih akan mampu menciptakan pemerintahan yang berintegritas, yang selalu menerapkan nilai-nilai integritas dalam kepemimpinannya.
Dengan pemimpin yang berintegritas tinggi peluang dan upaya kita untuk keluar dari kemiskinan yang diakibatkan oleh praktik-praktik koruptif dan manipulatif dalam pemerintahan akan lebih terbuka.
Integritas moral yang tinggi adalah kunci untuk memastikan bahwa pemimpin tidak terlibat dalam korupsi atau tindakan yang merugikan masyarakat dan kemajuan daerah. Pemimpin yang berintegritas akan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok, bukan sebaliknya lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya di atas kepentingan publik yang lebih luas, sehingga akhirnya keadilan dan kemakmuran di tengah masyarakat bisa diwujudkan.
Satu lagi kiranya yang tidak kalah penting adalah kemampuan berkomunikasi. Dalam konteks ini, dengan sistem bernegara yang kita anut, maka kemampuan berkomunikasi yang baik ini sangat penting dalam rangka melakukan lobi-lobi penting ke pemerintah pusat agar apa yang kita inginkan bisa direstui dan mendapatkan dukungan yang positif dari pemerintah pusat.
Oleh karenanya maka pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat pusat, kemampuan melobi dan membangun hubungan baik dengan pemerintah pusat serta pemangku kepentingan lainnya akan mempermudah pelaksanaan program pembangunan yang dibutuhkan daerah.
Lalu bagaimana kita bisa menilai apakah seseorang punya kapasitas yang sesuai dengan yang kita butuhkan? Tentunya dengan sistem politik yang berjalan di negara kita tidak begitu sulit untuk memahami itu, mengingat orang-orang yang kemudian maju sebagai calon pemimpin bukanlah orang-orang baru, tapi mereka semua punya latar belakang keterlibatan mereka dalam persoalan publik, jadi pengalaman tersebut bisa mencerminkan seberapa mumpuni kapasitas, intelektualitas, integritas dan seberapa terbuka ia terhadap masukan dan kritik dari pihak lain, tidak berlebihan jika ada yang mengatakan masa lalu adalah cerminan untuk masa depan.
Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa Pemimpin yang baik harus memahami masalah yang terjadi di tengah masyarakat yang dipimpinnya, terbuka terhadap aspirasi publik, mampu mencari solusi, memiliki integritas moral, dan mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk kepentingan daerah yang dipimpinnya.(*)
*Penulis: Ramadhan Al Faruq, Pemerhati Sosial di Aceh












