Oleh: Kamsah Galus
Habapublik.com, Blangkejeren: Dana insentif fiskal selalu terdengar manis di telinga masyarakat daerah, termasuk di Gayo Lues, sebab dana fiskal ibarat cahaya yang dijanjikan untuk menembus rimba gelap di Gayo Lues ia hadir membawa asa, pembangunan lebih merata layanan publik terjangkau dan optimal, hingga denyut ekonomi yang kembali bersemangat, Namun di balik kilaunya, ada bayang-bayang semu yang tak mudah diusir.
Kemudian insentif fiskal pada hakikatnya adalah bentuk dukungan pemerintah pusat bagi daerah dalam mengelola keuangan dan pembangunan, ia di gadang-gadang bisa menjadi suntikan energi bagi daerah tertinggal untuk mengejar ketertinggalan, mempercepat pembangunan infrastruktur, membuka lapangan pekerjaan hingga meningkatkan kualitas layanan publik. Namun di Gayo Lues wacana ini seringkali tak lebih dari bayang bayang semu -hadir di permukaan, tetapi tak kunjung terasa ada manfaatnya secara nyata di tengah masyarakat.
Mengapa demikian?
Pertama, Persolan teransparansi dan distribusi, tidak jarang insentif fiskal yang digembar-gemborkan hanya berhenti pada angka-angka di atas kertas, tanpa penjelasan yang jelas ke mana alokasi itu mengalir.
Masyarakat di akar rumput sering bertanya: “Kalau benar ada tambahan dana, mengapa jalan di Gayo Lues masih banyak yang rusak dan berlubang tanpa ada perbaikan, fasilitas pendidikan masih seadanya, dan layanan kesehatan belum optimal?” Pertanyaan itu wajar, karena apa yang dijanjikan dan apa yang dirasakan tidak sejalan.
Kedua, Pengelolaan fiskal yang belum menyentuh peroritas utama, Insentif fiskal seharusnya diarahkan pada sektor yang benar-benar mendongkrak ekonomi masyarakat, seperti pertanian , atau program pemberdayaan masyarakat .
Tetapi dalam praktiknya, banyak yang justru terserap ke kegiatan seremonial, perjalanan dinas, atau proyek yang tidak memberikan dampak langsung bagi kehidupan rakyat. Akibatnya, insentif fiskal hanya menjadi jargon politik, bukan solusi nyata.
Ketiga, Minimnya komunikasi pemerintah daerah kepada masyarakat Banyak warga Gayo Lues yang bahkan tidak tahu bahwa daerah mereka mendapat insentif fiskal. Padahal, jika komunikasi dibangun dengan baik, masyarakat bisa ikut mengawal, memberi masukan, bahkan terlibat dalam pengawasan penggunaannya.
Ketertutupan informasi membuat program ini tampak “misterius” dan semakin menegaskan bahwa keberadaannya hanya seperti bayangan tanpa tubuh. Padahal, secara ideal, insentif fiskal bisa menjadi angin segar bagi Gayo Lues.
Daerah yang kaya akan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal ini seharusnya mampu memanfaatkan dana tambahan untuk membangun pondasi ekonomi yang kokoh.
Infrastruktur desa bisa diperkuat, akses pasar diperluas, pendidikan ditingkatkan, serta sektor kesehatan diperhatikan. Dengan demikian, insentif fiskal tidak lagi berhenti sebagai retorika, melainkan benar-benar menghadirkan perubahan.
Namun sayangnya, hingga kini, yang terasa justru sebaliknya. Banyak masyarakat menilai insentif fiskal hiasan hanya dalam laporan pemerintah , bukan alat nyata untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Dalam konteks inilah, kita patut menyebutnya sebagai bayang-bayang semu terlihat ada, tetapi sulit disentuh.
Masyarakat Gayo Lues tentu berhak untuk berharap, tapi juga berhak untuk menuntut agar kebijakan fiskal tidak lagi menjadi retorika kosong. Pemerintah daerah perlu membuka diri, menyusun program dengan basis kebutuhan masyarakat, serta membuktikan bahwa setiap rupiah dari insentif fiskal benar-benar memberi manfaat nyata.
Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar tentang jumlah yang di kucurkan, tetapi tentang bagaimana dana itu dikelola dan dirasakan oleh rakyat. Jika tidak, insentif fiskal akan terus menjadi cerita yang indah di panggung politik, namun hambar di kehidupan sehari-hari masyarakat Gayo Lues.(*)
*Kamsah Galus, Wartawan Domisili di Blangkejeren, Gayo Lues.












