Habapublik.com, Blangkejeren: Polemik penggunaan dana insentif fiskal Tahun 2024 di Kabupaten Gayo Lues terus menjadi sorotan publik. Pasalnya, alokasi dana yang nilainya mencapai miliaran rupiah itu dinilai tidak sepenuhnya menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
Program pembangunan seperti SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum ) dan rabat beton yang di kelola Dinas Perkim Gayo Lues justru menuai tanda tanya besar dari berbagai kalangan terkait efektivitasnya dalam mengentaskan kemiskinan.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Gayo Lues Sahrul ST, MM saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin 22/09/2025 menegaskan bahwa pihaknya hanya sebatas menjalankan program sesuai arahan.
“Petunjuk teknis (juknis) itu adanya di keuangan, bukan di Perkim. Kami di sini hanya membuat program dan melaksanakan kegiatan sesuai arahan juknis yang turun. Jadi semua yang kami kerjakan, baik SPAM maupun rabat beton, sudah mengikuti ketentuan dari keuangan,” ujar Sahrul
Namun, pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan baru. Jika Dinas Perkim hanya sebatas pelaksana, siapa sebenarnya yang memastikan bahwa program-program tersebut benar-benar menyentuh akar persoalan kemiskinan di Gayo Lues?
Publik mempertanyakan relevansi pembangunan SPAM dan rabat beton dalam konteks pengentasan kemiskinan ekstrem, dan penurunan stunting, serta peningkatan ekonomi.
SPAM yang dibangun di beberapa titik kerap tidak berfungsi optimal karena persoalan teknis maupun minimnya pemeliharaan.
Sementara itu, rabat beton—yang jumlahnya menjamur di berbagai desa—sering dianggap hanya sebatas mempercantik jalan lingkungan tanpa ada nilai tambah signifikan terhadap peningkatan ekonomi warga.
“Kalau hanya rabat beton, apa hubungannya dengan pengurangan angka stunting? Apa bisa mengangkat pendapatan petani yang masih serba sulit? Kami butuh program yang menyentuh dapur masyarakat, bukan sekadar jalan cor,” kata seorang Warga di Blangkejeren.yang tidak ingin disebutkan namanya.(*)












