Daerah  

Gerakan Aceh Menggugat: Copot Tito Karnavian, Hentikan Pengkhianatan MoU Helsinki!

Aksi bertajuk GAM (Gerakan Aceh Menggugat) digelar oleh aliansi mahasiswa dan elemen sipil di Aceh Barat, sebagai bentuk protes terhadap pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman MoU Helsinki 2005, Senin (23/6/2025). Foto/Ekonus.

Habapublik.com, Meulaboh: Aksi bertajuk GAM (Gerakan Aceh Menggugat) digelar oleh aliansi mahasiswa dan elemen sipil di Aceh Barat, sebagai bentuk protes terhadap pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman MoU Helsinki 2005, Senin (23/6/2025).

Salah satu suara paling lantang dalam aksi ini datang dari Zulfahmi, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Teuku Umar (UTU), yang turut hadir sebagai massa aksi dan menyampaikan orasi penuh semangat.

Dalam orasinya, Zulfahmi menyerukan pencopotan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang menurutnya telah menjadi aktor utama di balik kebijakan-kebijakan yang mencederai semangat perdamaian di Aceh.

“Tito Karnavian telah mengkhianati semangat MoU Helsinki. Ia bukan penjaga perdamaian, tapi penyulut konflik baru. Copot Tito sekarang juga!” tegas Zulfahmi di depan Kantor DPRK Aceh Barat.

Zulfahmi juga menyinggung rencana penambahan empat batalyon TNI di Aceh yang menurutnya merupakan bentuk pelanggaran langsung terhadap butir-butir MoU Helsinki, khususnya butiran yang mengatur pembatasan militer di Aceh.

“Aceh tidak butuh pasukan, Aceh butuh komitmen! MoU itu bukan formalitas, itu perjanjian suci yang mengakhiri perang. Dan kami berdiri di sini untuk menagih janji itu!” lanjutnya.

Aksi dimulai dari kampus UTU dan bergerak menuju Kantor DPRK Aceh Barat. Massa membawa spanduk bertuliskan “Copot Tito, Tolak Militerisasi” dan menyerukan empat tuntutan: copot Tito Karnavian, tolak penambahan batalyon, kelola pulau secara mandiri, dan transparansi dana otonomi khusus (Otsus).

Aksi berlangsung damai dan ditutup dengan penyerahan pernyataan sikap kepada perwakilan DPRK. Kehadiran Zulfahmi sebagai pimpinan MPM UTU dalam aksi ini mempertegas bahwa perjuangan mempertahankan perdamaian dan martabat Aceh bukan hanya dilakukan oleh elite politik, tapi juga oleh generasi muda Aceh yang sadar sejarah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *