PSI Aceh Desak Pemerintah Tinjau Kembali Pemangkasan Anggaran Publikasi

Ketua PSI Aceh, Said Saiful.

Habapublik.com, Banda Aceh: Pers Siber Indonesia (PSI) Provinsi Aceh menyoroti kondisi kritis pers lokal akibat pemangkasan anggaran iklan dan publikasi pemerintah daerah. Media yang sebelumnya mampu membiayai wartawan dan staf kini banyak yang hanya bisa dikelola oleh keluarga karena tidak mampu membayar gaji karyawan.

“Kondisi kehidupan media pers saat ini kelabakan. Banyak wartawan terpaksa berhenti karena gaji tidak menentu,” ungkap Ketua PSI Aceh, Said Saiful dalam siaran pers, Minggu, 24 Agustus 2025.

Pemangkasan ini, menurut Said, berdampak langsung pada kualitas informasi yang diterima masyarakat. “Media yang menipis kapasitasnya tidak mampu melakukan liputan mendalam, sementara pengawasan terhadap kebijakan publik melemah,” sebut Said.

Dampak lain terasa pada sektor ekonomi yang bergantung pada media untuk publikasi. UMKM dan perhotelan kesulitan menjangkau konsumen, sementara pekerja kecil merasakan tekanan ekonomi yang nyata.

“Usaha kecil kehilangan ruang promosi, pendapatan turun, dan rakyat menanggung akibatnya,” kata Said yang akrab disapa Waled.

Said menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran jangan sampai mematikan pers. “Media independen adalah pilar demokrasi. Jika pers tercekik, kontrol publik melemah,” ujarnya.

PSI Aceh mendorong pemerintah meninjau kembali kebijakan anggaran iklan, memastikan media lokal dapat beroperasi dengan layak, dan memberikan perlindungan bagi jurnalis.

“Dukungan terhadap media lokal, menurut Said, bukan sekadar soal bisnis, tapi soal transparansi, akuntabilitas, dan keberlangsungan demokrasi,” pungkas Said Saiful yang juga pengurus organisasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *