Habpublik.com: Blangkejeren: Derasnya arus Sungai Rerebe kembali menegaskan betapa rentannya infrastruktur di daerah pegunungan. Jembatan vital yang menjadi satu-satunya penghubung antar-desa runtuh seketika, dihantam banjir dan longsor yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sisa-sisa jembatan kini berserakan di aliran sungai: potongan besi yang patah, rangka beton yang terlepas, dan gelagar yang tersapu arus. Bagi warga setempat, runtuhnya jembatan ini bukan hanya kerusakan fisik—tetapi terputusnya alur kehidupan.
Di desa yang aksesnya terbatas, satu jembatan berarti akses pendidikan, pangan, layanan darurat, hingga jalur ekonomi. Tanpa itu, warga terjebak dalam isolasi.
Namun, justru di tengah tekanan itu, solidaritas tumbuh. Tanpa dukungan alat berat, masyarakat setempat merakit jalur penyeberangan darurat dari material seadanya: bambu, papan, dan besi bekas puing. Mereka membangun karena kebutuhan mendesak.
Anak-anak harus tetap makan. Pasien harus mencapai fasilitas kesehatan. Barang pokok harus tetap bergerak. Dan untuk semua itu, mereka hanya punya satu pilihan: bertindak sendiri.
Penyeberangan rakitan itu kini menjadi satu-satunya jalur lintas desa. Satu kendaraan melintas, satu kendaraan berhenti. Di tepi sungai, warga berjaga tanpa lelah, menahan dingin dan hujan, memastikan setiap penyeberang tiba dengan selamat.
“Kami tahu ini berisiko. Tapi menunggu bantuan tanpa kepastian jauh lebih berbahaya bagi warga kami,” ujar seorang relawan kepada wartawan Habapublik.com, Senin (8/12/2025).
Pemerintah daerah masih melakukan kajian untuk membuka jalur alternatif dan merancang pembangunan jembatan sementara. Namun hingga kini, warga Rerebe Tripe Jaya bergantung pada rakit sederhana yang mereka bangun sendiri—sebuah simbol daya tahan di tengah bencana beruntun.(*)












