Habapublik.com, Blangkejeren: 14 hari sudah berlalu sejak longsor besar memutus total akses jalan utama menuju kecamatan Pining. Namun aliran tanah yang menimbun badan jalan bukan hanya mengubur aspal juga terancam harapan hidup ribuan warga yang kini terperangkap dalam keterisolasian panjang.
Di tengah sunyinya hutan dan tebing yang masih labil, warga tak punya pilihan. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan bantuan hanyalah dengan memanjat lereng-lereng tajam yang berubah menjadi dinding lumpur. Pada foto yang diambil oleh warga, tampak jelas: tubuh-tubuh renta dan muda sama-sama menunduk menahan beban karung bantuan yang berat, berjalan dengan telapak kaki telanjang di jalur licin yang kapan saja bisa longsor kembali.
Akar pohon menjadi pegangan hidup. Batang tumbang menjadi titian. Setiap langkah adalah pertaruhan antara selamat atau terseret jatuh ke jurang. “Kalau tidak kami ambil sendiri, kami tidak makan,” ujar malul seorang warga yang sudah menembus jalur longsor demi membawa beras untuk keluarganya, Selasa (9/12/2025).
Sementara itu, bantuan dari pemerintah dan relawan sudah menumpuk di titik-titik distribusi, namun tak bisa diangkut kendaraan apa pun. Semua harus diangkut manual oleh warga melewati medan ekstrem sepanjang ratusan meter.
Di beberapa titik, tanah masih terus bergerak. Setiap hujan deras membuat warga waspada dan terpaksa berhenti total. Namun kebutuhan tak pernah berhenti. Anak-anak membutuhkan susu, lansia memerlukan obat, dan dapur-dapur keluarga sudah lama kehabisan stok.
Ironisnya, hingga memasuki hari ke-14 pasca longsor, alat berat belum mampu menjangkau lokasi terdalam akibat kondisi medan yang terus berubah. Warga meminta perhatian serius dari pemerintah provinsi dan pusat agar pembukaan jalan menjadi prioritas utama sebelum korban jiwa jatuh akibat kelaparan atau longsor susulan.
Sampai hari ini, Pining masih menggantungkan hidup pada punggung rakyatnya sendiri—yang dengan segala keterbatasan tetap memikul harapan bisa pulang dengan selamat.(*)












