Daerah  

Himamen Unimal Salurkan Donasi dan Pulihkan Trauma Korban Kebakaran Jagong Jeget

Himpunan Mahasiswa Manajemen (Himamen) Universitas Malikussaleh (Unimal) yang menghadirkan program aksi sosial bertajuk “Himamen Peduli” terjun langsung ke Kampung Jeget Ayu untuk menyalurkan bantuan, pada Minggu (23/8/2026). Foto: Riyan.

Habapublik.com, Takengon – Duka mendalam masih menyelimuti warga Kampung Jeget Ayu, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, setelah musibah kebakaran yang melanda permukiman warga dan menyebabkan masyarakat harus menghadapi kehilangan serta kondisi sulit.

Di tengah situasi tersebut, kepedulian dan solidaritas dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir. Salah satunya datang dari Himpunan Mahasiswa Manajemen (Himamen) Universitas Malikussaleh (Unimal) yang menghadirkan program aksi sosial bertajuk “Himamen Peduli”.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, kepedulian sosial, dan solidaritas kemanusiaan, Himamen Unimal terjun langsung ke Kampung Jeget Ayu pada Minggu (23/8/2026) untuk menyalurkan bantuan sekaligus memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat terdampak.

Sebelum bergerak menuju lokasi bencana, Himamen Unimal terlebih dahulu menggalang dukungan masyarakat melalui aksi pengumpulan dana secara langsung di sejumlah titik strategis di Kota Lhokseumawe.

Selain itu, Himamen juga membuka posko donasi daring melalui transfer perbankan agar masyarakat, mahasiswa, alumni, maupun para donatur dari berbagai daerah dapat ikut mengambil bagian dalam membantu korban kebakaran. Bantuan yang terkumpul kemudian dihimpun dan dipersiapkan untuk disalurkan secara langsung kepada warga terdampak di Jeget Ayu.

Bagi Himamen, seluruh bantuan tersebut merupakan amanah dari masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan dengan memastikan setiap dukungan yang diberikan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Setelah proses penggalangan selesai, tim relawan Himamen Unimal bergerak menuju Aceh Tengah dengan membawa bantuan yang telah dihimpun.

Setibanya di Kampung Jeget Ayu, para relawan tidak hanya melakukan penyerahan bantuan material, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan masyarakat untuk melihat kondisi dan mendengarkan cerita warga yang terdampak musibah.

Kehadiran tersebut diharapkan dapat memberikan sedikit ruang bagi masyarakat untuk merasa bahwa mereka tidak menghadapi situasi sulit tersebut seorang diri. Bagi korban kebakaran, kehilangan tidak hanya berbicara mengenai kerusakan rumah dan barang-barang yang dimiliki, tetapi juga menyangkut rasa aman, kenyamanan, serta kehidupan yang selama ini dibangun bersama keluarga.

Oleh sebab itu, bantuan material dipandang sebagai bagian dari kebutuhan darurat, sementara kehadiran dan dukungan moral menjadi bagian lain yang tidak kalah penting dalam proses pemulihan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak yang menjadi bagian dari masyarakat terdampak. Menyadari bahwa peristiwa kebakaran dapat meninggalkan pengalaman traumatis dan rasa takut, relawan Himamen Unimal turut menggelar kegiatan trauma healing sebagai bagian dari rangkaian “Himamen Peduli”.

Kegiatan tersebut dikemas secara interaktif melalui permainan edukatif, sesi bercerita, hiburan, aktivitas bersama, serta pembagian paket keceriaan. Melalui kegiatan tersebut, para relawan berupaya menciptakan suasana yang lebih menyenangkan bagi anak-anak agar mereka dapat kembali bermain, berinteraksi, dan mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri setelah mengalami situasi yang penuh tekanan.

Meskipun trauma akibat bencana tidak dapat dihilangkan hanya melalui satu kegiatan, kehadiran relawan diharapkan mampu memberikan pengalaman positif sekaligus membantu mengembalikan rasa aman dan keceriaan anak-anak di tengah kondisi darurat.

Ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Malikussaleh, Muhammad Afif Ariansyah, mengatakan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah merupakan bentuk nyata dari tanggung jawab sosial dan pengabdian mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab di ruang akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan solidaritas dan kepedulian.

“Kami hadir di Jeget Ayu tidak hanya untuk menyerahkan amanah donasi dari masyarakat Lhokseumawe dan para donatur daring, tetapi juga untuk merajut kembali harapan para korban. Musibah ini merenggut banyak hal dari warga, namun kita tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan masa depan dan senyum mereka. Kehadiran kami dan program trauma healing ini adalah janji solidaritas bahwa mereka tidak menghadapi masa-masa sulit ini sendirian,” tegas Muhammad Afif Ariansyah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, mahasiswa, alumni, dan para donatur yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan “Himamen Peduli”. Menurutnya, bantuan yang dapat dibawa hingga ke Jeget Ayu merupakan hasil dari kepedulian banyak pihak yang secara bersama-sama menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan masih menjadi kekuatan penting dalam menghadapi musibah.

Setiap rupiah yang disumbangkan, setiap bantuan yang diberikan, serta setiap tenaga yang diluangkan memiliki arti bagi masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari kondisi sulit.

Melalui “Himamen Peduli”, Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Malikussaleh berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban warga Kampung Jeget Ayu sekaligus memberikan dukungan moral bagi masyarakat dalam melewati masa pemulihan.

Kehadiran kami juga diharapkan dapat menjadi pesan bahwa jarak geografis bukan alasan untuk berhenti peduli terhadap sesama. Ketika sebagian masyarakat sedang mengalami kehilangan, solidaritas dari masyarakat lainnya dapat menjadi kekuatan untuk kembali berdiri. Ketika anak-anak kehilangan rasa aman akibat bencana, kehadiran orang-orang yang peduli dapat menjadi ruang untuk mengembalikan senyum dan harapan mereka.

Aksi tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa mahasiswa bukan hanya bagian dari lingkungan kampus, tetapi juga bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial. Pengetahuan, tenaga, waktu, dan sumber daya yang dimiliki mahasiswa harus mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata ketika masyarakat menghadapi persoalan.

Dari Jeget Ayu, Himamen Unimal menegaskan bahwa semangat kemanusiaan harus terus dirawat dan solidaritas tidak boleh berhenti ketika pemberitaan mengenai bencana mulai mereda. Sebab, bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan rasa aman, proses untuk kembali bangkit masih panjang dan membutuhkan dukungan banyak pihak.

Melalui semangat “Himamen Peduli”, mahasiswa Unimal berupaya hadir bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga untuk menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat Jeget Ayu bahwa mereka tidak sendiri. Solidaritas yang dibangun dari kepedulian masyarakat Lhokseumawe dan para donatur diharapkan dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang pemulihan warga.

Sebab dalam setiap musibah, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan untuk bertahan, tetapi juga keyakinan bahwa masih ada banyak tangan yang bersedia membantu, banyak hati yang bersedia peduli, dan banyak orang yang percaya bahwa masyarakat terdampak mampu kembali bangkit.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *