Habapublik.com, Banda Aceh – Nazir Adam, SE, MM kembali masuk dalam perebutan kursi Ketua Umum PSSI Aceh periode 2026-2030. Ia resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon ketua umum di Kantor PSSI Aceh, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa sore (8/9/2026).
Nazir datang bersama sejumlah pendukung baik ketua PSSI Kabupaten/Kota maupun ketua Klub Sepakbola Anggota PSSI Aceh. Ia mengatakan keputusan kembali maju bukan semata karena dorongan pribadi, melainkan merespons harapan para pegiat sepak bola dan klub yang menginginkan sejumlah program pembinaan yang telah berjalan dapat diteruskan.
“Ada beberapa alasan saya maju Sebenarnya ada program yang harus kita lanjutkan. Ada program yang harus kita teruskan untuk membangun ekosistem sepak bola Aceh yang lebih sehat kedepan,” kata Nazir yang mantan Wabup Pidie itu.
Menurut dia, salah satu agenda yang masih membutuhkan keberlanjutan adalah persiapan tim Pra PON XII NTB-NTT. Selain itu, terdapat program pengembangan sumber daya manusia serta pembinaan pemain usia dini dari kelompok U-10, U-12 hingga U-17.
Nazir menyebut program tersebut telah dipersiapkan untuk menghadapi perubahan sistem kompetisi dan pembinaan sepak bola di tanah air yang akan berlangsung mulai 2027 mendatang
“Program-program tersebut sebenarnya sudah terkonsep dengan baik untuk 2027, karena akan ada banyak perubahan dalam sistem kompetisi dan sistem pembinaan,” ujarnya.
Pencalonan kembali Nazir sekaligus untuk mempertanggungjawabkan kesinambungan program yang selama ini telah dijalankan. Ia tidak menampik bahwa agenda tersebut pada dasarnya juga dapat diteruskan oleh kandidat lain. “Program-program tersebut bisa saja dilaksanakan oleh teman-teman yang lain,” katanya.
Karena itu, Nazir Adam mengungkapkan, menyerahkan penilaian kepada klub dan para pemilik suara dalam menentukan arah kepemimpinan PSSI Aceh ke depan.
Nazir Adam menegaskan pencalonannya kali ini berbeda dengan motivasinya ketika pertama kali maju memimpin organisasi sepak bola Aceh.
Jika sebelumnya dorongan membangun sepak bola lebih banyak berasal dari dirinya sendiri, kali ini ia mengaku keputusan kembali bertarung justru lebih kuat karena adanya permintaan dari kalangan pengurus sepak bola. “Kalau tidak ada dukungan, mungkin kita tidak akan maju lagi,” ujarnya.
Ia menyebut dukungan tersebut datang dari kawan-kawan yang berharap beberapa program pengembangan sepak bola Aceh yang dinilai belum selesai dapat dilanjutkan. “Motivasi ini lebih banyak datang dari kawan-kawan. Karena itu, saya harus menyambutnya dengan lebih semangat,” katanya.
Nazir berharap dukungan tersebut tidak berhenti sebagai dukungan politik menjelang kongres. Ia menginginkan dukungan itu berubah menjadi kolaborasi untuk membangun ekosistem sepak bola Aceh.

“Saya berharap ke depan semangat ini menjadi sebuah kolaborasi yang kuat untuk membangun ekosistem sepak bola Aceh yang lebih kuat lagi,” ujarnya.
Selama dua periode kepemimpinannya, Nazir tidak langsung mengklaim capaian organisasi sebagai keberhasilan pribadi. Ia justru meminta publik menilai sendiri perubahan yang terjadi.
Menurut dia, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama para pengurus, klub, pelatih, wasit, dan seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola Aceh.
Ia kemudian menyampaikan perubahan pada sektor sumber daya manusia, khususnya pelatih dan wasit. Ketika awal memimpin, kondisi organisasi masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Sekretariat belum berjalan optimal, jumlah wasit masih minim, sementara pelatih berlisensi juga sangat terbatas.
“Ketika awal saya memegang kepemimpinan di PSSI Aceh, Sekretariat saja tidak hidup. Kemudian jumlah wasit sangat sedikit. Pelatih sepak bola juga bisa dihitung dengan jari dan banyak yang belum memiliki lisensi,” katanya.
Ia menyebut kini jumlah pelatih berlisensi B di Aceh telah mencapai lebih dari 30 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya yang hanya sekitar lima orang. Untuk lisensi D, jumlahnya juga telah jauh lebih banyak.
Perubahan juga diklaim terjadi dalam sektor perwasitan. Sejumlah wasit Aceh kini telah mendapatkan kesempatan berkiprah di kompetisi tingkat nasional, termasuk Liga 1 dan Liga 2. “Dulu hanya ada satu orang,” ujarnya.
Meski mengungkap sejumlah perkembangan tersebut, Nazir tetap menempatkan pencalonannya dalam kerangka keberlanjutan program, bukan sekadar mempertahankan posisi.
Persoalannya kini bukan hanya siapa yang mampu memimpin organisasi, tetapi sejauh mana program pembinaan yang telah dirancang dapat benar-benar diterjemahkan menjadi prestasi sepak bola Aceh.
Terlebih, perubahan sistem kompetisi dan pembinaan pada 2027 akan menuntut kesiapan sumber daya manusia, pembinaan usia dini, hingga kesiapan tim menghadapi agenda kompetisi.
Nazir mengatakan dirinya siap melanjutkan kerja tersebut jika kembali mendapat mandat. “Kita serahkan kepada Yang di Atas. Semoga dengan dukungan kawan-kawan, kita bisa terus bekerja dan berdoa. Semoga ini menjadi langkah yang baik, bukan hanya untuk saya, tetapi untuk kita semua,” pungkasnya.(*)












