* Perkuat Kepemimpinan Pendidikan dan Literasi AI
Habapublik.com, Banda Aceh– Menjelang penyelenggaraan EDUtech Asia 2026, sebanyak 23 guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI), terdiri atas Pengurus Pusat dan anggota IGI dari berbagai daerah, mengikuti undangan Eduspace Global Event di Singapura pada 3 November 2026. Rombongan dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Dr. Jasmansyah, M.Pd.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda internasional menjelang EDUtech Asia 2026 yang berlangsung pada 4–5 November 2026 di Sands Expo, Singapura. EDUtech Asia dikenal sebagai salah satu konferensi dan pameran pendidikan terbesar di Asia yang mempertemukan para pendidik, pemimpin pendidikan, pengembang teknologi, serta penyedia solusi EdTech dari berbagai negara.
Kehadiran delegasi IGI dalam kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi profesi guru Indonesia untuk terus membuka ruang pembelajaran global, memperluas jejaring internasional, serta meningkatkan kapasitas pendidik dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Salah satu agenda yang diikuti rombongan adalah AI in Education Leadership Workshop dengan tema From Evaluating AI to Redesigning Learning. Workshop yang menghadirkan Dr. Jim Wagstaff tersebut membahas perkembangan pemanfaatan AI dalam pendidikan, khususnya bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk mengevaluasi, mengembangkan, dan mendesain ulang pengalaman belajar agar lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya kepemimpinan pendidikan dalam mengarahkan pemanfaatan AI. Teknologi tidak cukup hanya diperkenalkan sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi perlu diintegrasikan secara bijaksana ke dalam perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, asesmen, serta pengembangan kompetensi guru.
Dr. Jasmansyah, M.Pd. mengatakan bahwa keikutsertaan 23 guru IGI dalam agenda internasional ini bukan sekadar perjalanan menghadiri kegiatan di luar negeri, melainkan bagian dari ikhtiar membangun wawasan dan perspektif global bagi para pendidik Indonesia.
“Guru Indonesia harus berani mengambil bagian dalam percakapan pendidikan global. Perkembangan Artificial Intelligence tidak boleh hanya kita saksikan, tetapi harus kita pahami, kritisi, dan manfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kita perlu memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan,” ungkap Jasmansyah.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran AI membawa perubahan mendasar terhadap cara guru mengajar, peserta didik belajar, dan lembaga pendidikan mengembangkan sistem pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut tidak hanya memiliki kecakapan digital, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta pertimbangan etis dalam memanfaatkan teknologi.
“AI bukan untuk menggantikan guru. Justru di tengah kemajuan teknologi, peran guru sebagai pendidik, pembimbing, inspirator, dan pembentuk karakter semakin penting. Tantangan kita adalah bagaimana menjadikan AI sebagai mitra dalam menciptakan pembelajaran yang lebih humanis, adaptif, dan bermakna,” tambahnya.
Menurut Jasmansyah, pengalaman internasional seperti ini juga harus memberikan dampak yang lebih luas. Pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang diperoleh para peserta diharapkan dapat ditransformasikan menjadi kegiatan berbagi pengetahuan dan pengembangan profesional bagi guru-guru lainnya di Indonesia.
Ia berharap partisipasi delegasi IGI dalam EDUtech Asia 2026 dapat menjadi salah satu langkah memperkuat posisi guru Indonesia dalam ekosistem pendidikan internasional.
“Jangan sampai guru Indonesia hanya menjadi penonton dalam transformasi pendidikan dunia. Kita harus menjadi bagian dari perubahan, membangun kolaborasi, berbagi praktik baik, dan menunjukkan bahwa guru Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi pada perkembangan pendidikan global,” tegasnya.
Selain mengikuti workshop, rombongan IGI juga melakukan kunjungan dan kegiatan kebersamaan di sejumlah lokasi di Singapura, termasuk kawasan Cathay. Agenda tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarguru sekaligus memperluas pengalaman lintas budaya.
Partisipasi 23 guru IGI ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan profesi guru tidak boleh berhenti pada ruang kelas dan kegiatan rutin organisasi. Pertukaran pengalaman, interaksi internasional, serta keterlibatan dalam forum pendidikan global merupakan bagian penting dalam membangun guru yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Melalui rangkaian kegiatan menuju EDUtech Asia 2026, IGI membawa semangat bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas dan kepemimpinan guru. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang dikembangkan, keberhasilan pendidikan tetap bergantung pada manusia yang mampu menggunakannya secara bijaksana.
Dari Singapura, IGI membawa pesan bahwa guru Indonesia harus terus belajar, berkolaborasi, dan mengambil peran dalam membentuk masa depan pendidikan dunia. (*)












