Ragam  

Setelah 56 Siswa Diwisuda, Sekolah Lansia Akan Berlanjut di 14 Kecamatan di Aceh Tengah

Kaper BKKBN Aceh, Safrina Salim, melakukan penyelempangan, Sekda memindahkan tali topi toga dari kiri ke kanan pada pelaksanaan wisuda 56 siswa Sekolah Lansia Sara Ate, Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Foto/BKKBN Aceh.

Habapublik.com, Takengon: Meski tanpa anggaran khusus untuk pelaksanaan wisuda 56 siswa Sekolah Lansia Sara Ate, Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, namun wisuda tersebut berjalan lancar dan sukses.

Dari jumlah tersebut, wisudawan tertua atas nama Limpah (perempuan) dengan usia 79 tahun. Ia tidak tamat Sekolah Dasar.

Desa Mendale sendiri merupakan Kampung Keluarga Berkualitas (KB) yang dicanangkan pada 29 Agustus 2017 silam. Jumlah penduduk sekitar 752 jiwa, jumlah Kepala Keluarga 211, dan PUS (Pasangan Usia Subur) sebanyak 120 orang. Sementara partisipasi keluarga untuk program Bina Keluarga Lansia (BKL) di desa ini sebanyak 36,67%.

Selesai mengikuti pawai di sekitaran Kota Takengon, Minggu (28/7/2024), dua bus mini milik Pemerintah Aceh Tengah itu berhenti di halaman Pendopo Bupati Aceh Tengah. Awan dan Anan (kakek dan nenek, sebutan dalam bahasa Gayo) turun dengan tertib dan berbaris di samping bus.

Sementara sanak keluarga sudah menunggu di luar Gedung Ummi, bersama Penyuluh KB; Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Aceh, Safrina Salim; Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Tengah, Subhandhy; Kepala OPD KB, Alam Suhada; Camat Kebayakan; dan reje kampung (kepala desa) Mendale.

Semua yang ikut terlibat di wisuda dan yang melakukan wisuda berbaju toga. Satu-satu nama wisudawan dipanggil setelah pembacaan SK kelulusan oleh panitia kelulusan.

Kaper BKKBN Aceh, Safrina Salim, melakukan penyelempangan, Sekda memindahkan tali topi toga dari kiri ke kanan, dan Kepala OPD KB memberikan sertifikat. Sebanyak 56 wisudawan menerima sertifikat kelulusan, awan dan anan. Riwayat pendidikan mereka ada yang tidak tamat SD, lulusan SD, SLTP, SLTA, dan Sarjana.

Safrina Salim dalam sambutannya mengatakan, Aceh pada 2024 telah memiliki 34 sekolah lansia di 23 kabupaten/kota di Aceh dengan jumlah total siswa sebanyak 850 siswa. Sementara jumlah sekolah lansia terbanyak ada di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 12 sekolah lansia.

Sekolah lansia akan berlanjut di 14 kecamatan di Aceh Tengah.

“Sekolah lansia adalah pendidikan non formal sebagai upaya pemberian informasi, pelatihan tentang kesehatan, keagamaan, sosial, budaya sehingga lansia dapat hidup bahagia sejahtera. Sedangkan tujuan program Sekolah Lansia BKKBN untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku, agar lansia tetap sehat,” ujarnya.

Di dalam program yang merupakan perwujudan kepedulian pemerintah terhadap lansia sehingga berdaya, Safrina berharap para lansia dapat menerapkan tujuh aspek Dimensi Lansia Tangguh ke dalam kehidupannya. Dimensi itu adalah dimensi spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial, profesional dan vokasional, dan lingkungan.

“Lansia perlu terus diintervensi aspek spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial, professional, vokasional, dan lingkungan. Sehingga menjadikan lansia berdaya, sehat, tangguh, dan mandiri. Misal, kita lihat di dimensi lingkunga, di mana lansia dipengaruhi oleh lingkungannya dalam beraktifitas, lingkungan yang bersih dan sehat, serta yang menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi dirinya,” jelas Safrina.

Selanjutnya, Kaper pertama perempuan BKKBN Aceh ini mengatakan, tujuan program ini guna meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga berdaya.

“Kami mengapresiasi dan sangat berterima kasih kepada OPD KB, Penyuluh KB serta kepada Bapak Bupati dan Ibu Ketua TP-PKK yang telah mendukung kegiatan Sekolah Lansia ini sehingga akhirnya 56 siswa dapat diwisuda hari ini,” sebut perempuan yang akrab dipanggil “Bunda Vina” ini.

Sekda Aceh Tengah, Subhandhy, dalam sambutannya, mengucapkan terimakasih kepada Kepala Perwakilan BKKBN Aceh karena telah melaksanakan program Sekolah Lansia di wilayahnya. Apalagi dia mengakui melihat raut wajah kebahagian awan dan anan serta keluarga saat menghadiri dan menjadi wisudawan Sekolah Lansia Sara Ate.

“Ini adalah momen yang sangat istimewa. Pendidikan tidak mengenal usia, dan hari ini kita menyaksikan semangat dan tekad luar biasa dari para lansia yang telah menyelesaikan pendidikan mereka di usia yang tidak muda lagi,” ucapnya.

Ia juga mengatakan, Sekolah Lansia Aceh Tengah merupakan salah satu inisiatif pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup dan memberdayakan para lansia melalui pendidikan. Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan belajar kepada para Lansia yang ingin terus mengembangkan diri, meskipun mereka sudah memasuki usia senja.

Sekda Subhandhy menambahkan bahwa pemerintah Aceh Tengah berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif pendidikan untuk semua kalangan. “Setelah menghadiri acara wisuda hari ini, saya semakin berkeyakinan bahwa pendidikan adalah sepanjang hayat.”

“Mengecap pendidikan tidak ada kata pensiun. Tidak akan pernah berakhir meski sudah memasuki masa pensiun. Mengecap pendidikan adalah hak setiap individu, tanpa memandang usia. Kita lihat hari ini awan dan anan kita sangat bersemangat, mengikuti sekolah lansia dan hari ini mereka diwisuda,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan, melihat program ini sangat bermanfaat bagi para lansia, Pemerintah Aceh Tengah akan melanjutkan program ini dan memperluasnya ke daerah-daerah lain di kecamatan yang ada di Aceh Tengah.

“Kita akan mendukung program ini. Seperti kata Kepala OPD KB tadi, semua kecamatan di Aceh Tengah akan kita dirikan sekolah lansia. Sehingga banyak lansia kita bisa berpartisipasi dan mengecap pendidikan, serta dapat mengembangkan tujuh Dimensi Lansia Tangguh ke dalam kehidupannya,” kata Sekda.

Penduduk lansia di Indonesia pada 2023 sebesar 11,75% dan angka lansia di Aceh sebesar 8,67%. Sekolah Lansia Sara Ate Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, tidak saja akan menjadi contoh bagi desa dan kecamatan lain yang ada di Aceh Tengah. Tetapi juga akan menjadi contoh di kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Program memberdayakan lansia dirasakan sangat bermanfaat. Mengingat Indonesia sudah memasuki era penduduk menua (ageing population).

Salah seorang wisudawan Sekolah Lansia, Yurniati (71), mengaku sangat senang bisa menjadi siswa Sekolah Lansia Sara Ate. Karena ia mendapatkan manfaat yang besar mengikuti sekolah ini. Diakuinya, ia semakin bersemangat menjalani masa tuanya, sehingga bisa memberi manfaat bagi lingkungan dan keluarganya.

“Bukan saja bersemangat, tetapi saya merasa jiwa saya semakin muda. Karena selain dapat bersilaturrahim dengan teman seusia saya, dirasakan di sisa usia ini harus terus memberi manfaat bagi orang lain dengan keahlian yang saya miliki. Saya bisa sharing ilmu yang saya dapat kepada keluarga dan masyarakat lainnya di kampung saya,” pungkasnya.*

Tentang BKKBN

_Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga._

_BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting._(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *