Habapublik.com, Sabang : Zulfikar Jailani, seorang putra daerah Sabang, merupakan pemilik usaha boat fiber di Gampong Iboih Kecamatan Sukamakmue Sabang. Awalnya usahanya ini berawal dari pengalaman panjangnya dalam pembuatan boat kayu, sebuah keahlian yang diwarisi oleh orang tuanya.
Seiring berjalannya waktu, Zulfikar menyadari bahwa ketergantungan pada kayu untuk pembuatan boat dapat mengancam kelestarian hutan di Sabang, mengingat pembuatan satu boat saja membutuhkan puluhan kubik kayu, yang berarti penebangan banyak pohon.
Keprihatinan inilah yang mendorongnya untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Pilihannya jatuh pada pembuatan boat fiber, yang pada saat itu belum dikenal di Sabang. Keputusan untuk mempelajari teknik pembuatan boat fiber bukanlah hal yang mudah, karena bahan dan teknik pembuatan boat fiber masih sangat jarang diketahui di daerah ini. Namun, setelah mengikuti pelatihan dari UNFAO pasca tsunami Aceh, yang pengajarnya berasal dari Australia, ia mulai menguasai teknik pembuatan boat fiber berkelas internasional.
Zulfikar mengatakan, ia telah mengembangkan usahanya secara perlahan sejak 2012 lalu, bahkan pernah menjadi pemateri dalam kegiatan pelatihan pembuatan boat Fiber yang diadakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Sabang. Sejak saat itu, ia menetap di Iboih dan mulai menerima pesanan pembuatan boat fiber, dengan memesan bahan baku pembuatan boat fiber tersebut dari Sumatera Utara.
“Jadi saat ini saya bekerja bersama abang saya, yang juga memiliki keahlian dalam pengolahan fiber. Proses pembuatan boat dimulai dengan pembuatan mall atau cetakan dari triplek, yang memakan waktu sekitar satu bulan, setelah cetakan siap, proses pembuatan boat fiber hanya memakan waktu sekitar 15 hari,” ujar Zulfikar, Minggu (25/08/2024).
Hingga saat ini, pemesanan boat fiber miliknya tidak hanya sebatas wilayah Sabang saja, namun sudah meluas ke beberapa wilayah di Aceh, dengan meningkatnya pemesanan, tentu penghasilan yang didapatkan dapat memenuhi kebutuhan ia dan keluarga. Harga yang ditawarkan sekitar Rp. 30-40 juta per boat, biaya perawatan lebih murah serta dapat digunakan jangka Panjang hingga lima tahun kedepan.
“Namun, tantangan utama saya hadapi adalah keterbatasan bahan baku yang harus didatangkan dari Medan, yang seringkali menyebabkan penundaan dalam proses produksi. Ia rencanakan kedepannya akan merekrut beberapa anggota tim yang bisa dilatih, sehingga ketika pesanan meningkat, mereka siap bekerja,” tambahnya.
Zulfikar berharap masyarakat Sabang, terutama para nelayan, dapat beralih menggunakan boat fiber untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Dengan harga yang hanya sedikit lebih mahal dari boat kayu, manfaat dan keuntungan yang ditawarkan oleh boat fiber sangat besar. Sebagai putra daerah, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan usahanya demi kemajuan daerah dan kelestarian alam Sabang.(*)












