Habapublik.com, Banda Aceh : Puluhan anak dari sejumlah Sekolah di Banda Aceh mengikuti uji Produk Penerjemahan Balai Bahasa Provinsi Aceh. Seluruh cerita di tulis dan berasal dari konten lokal di Aceh. Kegiatan di buka Oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh Drs. Umar Solikhan, M.Hum, Sabtu (05/10/2024).
Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam hal ini bidang Kelompok Kerja Penerjemahan (KKLP) menggelar uji Produk Penerjemahan Balai Bahasa Provinsi Aceh. Kegiatan diikuti belasan Siswa dan Pendamping dari sejumlah sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Ketua Panitia Kegiatan Murhaban menjelaskan kegiatan uji hasil Penerjemahan pihaknya ini dilaksanakan agar menghasilkan bahan bacaan yang bermutu dan berkualitas. Dia melanjutkan kegiatan berlangsung beberapa tahapan, Untuk kemudian produksi cerita akan di perbanyak.
“Ini merupakan upaya kita untuk menghasilkan produk cerita anak berkualitas dan bermutu. jadi menyuguhkan cerita anak itu tidak boleh sembarangan. Kami juga di berikan format dan juknis yang ketat oleh pusat perbukuan nasional (pusbuk). Setelah uji keterbatasan, penyelarasan dan lainnya, kami akan menyampaikan ke pusbuk, dan mereka menilai layak atau tidak, apalagi akan di edarkan ke sekolah itu ada lagi penilaiannya,” terangnya, Sabtu (05/10/2024).
Murhaban berharap agar hasil produk cerita penerjemahan ini mampu memperkaya bahan bacaan untuk anak yang saat ini dinilai sangat kurang. Apalagi cerita yang di ambil merupakan kekayaan cerita di daerah sendiri. “Ini kekayaan yang selama ini orang jarang menyentuhnya, bermacam cerita yang ada di daerah kita, mengapa harus cerita orang. Masalahnya tidak ada yang mengemas, menggambarkan secara menarik. Selama ini buku cerita anak dari luar sangat mudah di akses. jadi sudah saatnya kita menghargai produk cerita sendiri,” lanjutnya.
Pada uji produk penerjemahan Balai bahasa Provinsi Aceh perdana itu para siswa dan pendamping diajak menilai secara objektif kelayakan 6 cerita untuk anak yang telah di terjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa yang ada di Provinsi Aceh diantaranya Aceh, Gayo, dan Devayan Simeulue.
Sejumlah parameter yang di nilai dari sisi alur cerita, kualitas gambar, teks, kedekatan dengan dunia anak dan unsur moralitas. Kegiatan juga diwarnai aksi story telling oleh dua pencerita yakni kak Wahyu “Kece” dan Kak Sue secara bergiliran.(*)












