Petani di Sabang Kesulitan Pasca Panen, Distanpangan Usulkan Mesin Penggiling Padi

Para petani padi gogo di Kota Sabang menghadapi kendala serius akibat minimnya fasilitas pasca panen, terutama mesin penggiling padi sehingga padi dibiarkan menumpuk. Foto/Difa.

Habapublik.com, Sabang : Para petani padi gogo di Kota Sabang menghadapi kendala serius akibat minimnya fasilitas pasca panen, terutama mesin penggiling padi. Saat ini, hanya tersedia satu unit mesin perontok padi yang merupakan pinjam pakai dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh.

Menyahuti keluhan tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Sabang, Widia, mengatakan, pihaknya menyadari pentingnya sarana pascapanen seperti mesin penggiling padi dan mesin perontok padi (power thresher). Untuk mendukung minat masyarakat yang semakin meningkat dalam menanam padi, pada tahun 2024 lalu pihaknya telah mengusulkan sarana dan prasarana pasca panen ke Distanpangan Provinsi Aceh.

“Tentunya kami tidak tinggal diam dengan adanya permasalahan yang terjadi, karena ini juga sebagai upaya ketahanan pangan diwilayah Sabang. Jadi Distanpangan melalui bidang Tanaman pangan dan Holtikultura, telah mengusulkan pengadaan seperti power thresher, combine harvester mini, dan mesin penggiling padi,” ujar Widia, Rabu (29/01/2025).

Sebelumnya Ketua Kelompok Tani Nasional Aceh (KTNA) Kota Sabang, Saifuddin, saat diwawancarai langsung di kebun miliknya di Gp Bateshok kecamatan Sukamakmue Sabang, pada Rabu 22 Januari 2025, membenarkan keluhan tersebut.

Para petani padi gogo di Kota Sabang menghadapi kendala serius akibat minimnya fasilitas pasca panen, terutama mesin penggiling padi sehingga padi dibiarkan menumpuk. Foto/Difa.

Keterbatasan ini memaksa petani menjual gabah hasil panen tanpa diolah menjadi beras, yang berdampak pada pendapatan dan efisiensi produksi.

Saifuddin menambahkan, padi gogo yang ditanam yakni varietas Invago 12 di lahan seluas 0,3 hektar, panen perdana ini ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan di Kota Sabang. pada tahun 2025, ia berencana memperluas lahan padi gogo, terutama di daerah Bateshok, dengan tambahan lahan seluas 5-10 hektar.

“Satu mesin penggiling padi itu sudah sangat perlu, lebih tepatnya satu kecamatan satu mesin penggiling padi, bagi kami itu yang sangat prioritas. Kalau memang alat itu tidak ada pada saat pasca panen, ghabahnya kering otomastis kan dijual, kalau ga dijual dibawa ke banda aceh untuk digiling, maka ini akan menghabiskan biaya lagi,” kata Saifuddin.

“Kendala ini diharapkan, dapat segera diatasi agar para petani padi gogo di Sabang dapat mengolah hasil panen menjadi beras, sehingga mendukung program ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *