Daerah  

Tokoh Geumpang: Penambangan Emas Harus Dorong Ekonomi Tanpa Rusak Alam

Warga Geumpang, Pidie, berkumpul dalam pertemuan membahas pengelolaan tambang emas rakyat. Mereka meminta agar aktivitas penambangan mampu mendorong ekonomi masyarakat tanpa merusak lingkungan. Foto/Kiriman Mulyadi.

Habapublik.com, Sigli: Tokoh masyarakat di Geumpang, Pidie, menegaskan bahwa potensi besar penambangan emas di wilayah tersebut harus dikelola secara bijak agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Pada dasarnya masyarakat setempat telah melakukan penambangan emas ala tradisional secara turun temurun, bahkan pekerjaan itu dijadikan sebagai penopang ekonomi atau menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di sana.

Yusri (45), salah tokoh Geumpang, kepada wartawan habapublik.com, Senin (29/9/2025) menuturkan, bahwa ia bukan berarti mendukung adanya penambangan ilegal di daerahnya, tapi bagaimana pemerintah memikirkan nasib penambang yang hanya menggantungkan hidup lewat pekerjaan itu.

“Kami khawatir bagaimana jika nanti kehilangan pendapatan sehari hari warga, apa solusi dari pemerintah,” kata Yusri. Ia sebutkan, penambangan emas di Geumpang memiliki potensi ekonomi yang signifikan.

Tanpa merusak lingkungan dan alam sekitar.

Ia melanjutkan masyarakat di sana telah membuka tambang rakyat yang sudah berjalan selama ini tanpa merusak lingkungan, meskipun dengan menggunakan Exavator sesuai hukum adat setempat.

“Dengan adanya kegiatan tambang rakyat digeumpang tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat bergeliat. Bahkan daya beli masyarakat dipasar UMKM sangat tinggi selama ini,” tambah Yusri.

Tokoh Geumpang itu juga membantah pernyataan dari salah satu Anggota DPRA baru baru ini terkait setoran Rp.30 Juta. Ia menjelaskan itu tidak mendasar dan sesat, harusnya pinta Yusri cek dulu ke lapangan dengan melibatkan masyarakat lokal.

“Kami tidak pernah memberikan uang sejumlah yg disebut untuk pihak keamanan yang seperti di tuduh Pansus DPRA itu,” timpal Yusri dengan tegas. Kegiatan tambang rakyat kata Yusri sangat terbantu pembangunan di Geumpang, seperti pembangunan Mesjid Syuhahada.

“Yang menghabiskan biaya milyaran rupiah, begitu juga dengan Asrama Mahasiswa atau rumah singgah di Banda Aceh, sampai detik ini belum ada bantuan dari pemerintah semenjak pembelian tanah sampai pembangunannya hampir selasai,” curahnya.

Lebih jauh, ia mengajak semua pihak untuk mencari solusi terbaik agar ekonomi masyarakat tetap hidup dan mengalir di pedalaman pelosok Aceh, khususnya di Geumpang. “Masyarakat dan pemerintah Aceh harus bekerja sama untuk mengelola potensi emas secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *