Ecoprint, Produk Ramah Lingkungan di Kota Sabang Jadi Incaran Wisatawan

Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang, Erna Vivilinda memperlihatkan kerajinan berbasis ramah lingkungan yaitu Ecoprint, Rabu (5/11/2025). Foto/Irwansyah

Habapublik.com, Sabang: Kreativitas perempuan Sabang terus berkembang, sekelompok pengrajin perempuan di bawah naungan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang mulai mengembangkan kerajinan berbasis lingkungan yaitu Ecoprint, salah satu seni mencetak motif alami dari daun-daunan ke kain.

Kini, setelah empat tahun berjalan, Ecoprint Sabang telah tumbuh menjadi salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Kota Sabang dengan 15 pengrajin aktif yang telah mandiri memproduksi berbagai karya unik seperti tas, baju, dan gorden.

Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang, Erna Vivilinda mengatakan, semua ini lahir dari semangat untuk berkarya di rumah selama pandemi Covid-19 pada tahun 2021.

“Kami ingin membuat sesuatu yang bisa diproduksi dari rumah saat Covid-19. Produk ini ramah lingkungan, semua pewarnaan kami gunakan dari bahan alami, tanpa bahan kimia,” ujar Erna kepada Habapublik.com, Rabu (5/11/2025).

Para pengrajin sedang memproduksi kerajinan berbasis ramah lingkungan yaitu Ecoprint, Rabu (5/11/2025). Foto/Irwansyah

Untuk diketahui, Ecoprint yang awalnya berasal dari Australia tersebut menggunakan daun dan bahan alami sebagai sumber warna dan motif. Setiap kain dibuat melalui proses panjang, mulai dari mencuci, merendam dengan tawas (mordanting), pewarnaan, serta mengukus hingga selama dua jam, hingga proses pengeringan dan fiksasi selama tiga hari agar warna lebih kuat dan cerah.

“Pembuatan satu kain bisa memakan waktu hingga empat hari. Tapi hasilnya unik, tak ada motif yang sama,” jelas Erna.

Selain menghasilkan karya estetis, limbah daun sisa pewarnaan juga dimanfaatkan sebagai pupuk alami, menambah nilai ramah lingkungan dari setiap produk.

Dalam proses pengembangan, para pengrajin Ecoprint Sabang mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI) berupa bantuan peralatan produksi, seperti kukusan berkapasitas mempu menampung 25 kain, tempat penyimpanan daun segar, kompor, dan dandang untuk pewarnaan.

“Bantuan dari BI sangat membantu. Produksi kami jadi lebih cepat dan efisien,” ujar Erna.

Dengan dukungan ini, Ecoprint Sabang kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp100 juta lebih pertahun dan menjadi salah satu contoh sukses pemberdayaan ekonomi perempuan di sektor kreatif.

Menariknya, produk-produk ini banyak dibeli oleh wisatawan asal Malaysia, yang tertarik pada nilai artistik dan keaslian motif daun.

Produk Ecoprint Sabang dibanderol dengan harga Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per item, tergolong terjangkau untuk produk handmade ramah lingkungan.

Saat ini produk Ecoprint Sabang dapat ditemukan di sebagai tempat di Sabang, seperti Mata Ie Resort, Taman Wisata Putro Ijo, serta juga dijual melalui platform daring dan media sosial.

Meski terus berkembang, para pengrajin masih menghadapi tantangan dalam permodalan dan pengembangan pasar. Namun Erna tetap optimistis bahwa Ecoprint Sabang akan semakin dikenal luas.

“Harapan kami, Ecoprint menjadi ikon baru oleh-oleh Sabang, produk lokal yang ramah lingkungan dan berkelas internasional,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *