*Krisis Air Bersih
Habapublik.com, Meureudu: Sudah 18 hari sudah bencana banjir bandang berlalu. Namun, pasca bencana alam hidrometeorologi yang meluluh lantakkan pulau Sumatera ini masih menghadapi kondisi sulit khususnya di Kabupaten Pidie Jaya.
Para pengungsi menghadapi dilema berat antara bertahan di pengungsian atau pulang membersihkan rumah yang terdampak lumpur parah. Selain hancur ada juga rumah warga hanya dipenuhi lumpur dan sampah, membuat kondisi belum bisa huni.
Namun, tidak ada daya dan upaya karena kondisi demikian membuat mereka yang ingin pulang membersihkan rumah terkendala aliran saluran air (got) tersumbat dan lingkungan masih dipenuhi endapan lumpur tebal.
Ketiadaan air bersih menjadi persoalan utama. Selain got, sumur warga juga tersumbat ditambah jaringan air belum pulih, sementara kebutuhan untuk membersihkan rumah dan keperluan sehari-hari terus mendesak.
Di sisi lain pemerintah setempat beberapa kali disahuti oleh perangkat gampong yang terdampak untuk mengatasi situasi dimaksud dengan mendatangkan alat berat, alhasil sampai berita ini diturunkan tak kunjung terjawab.
Pantauan wartawan habapublik.com, Minggu (14/12/2025) saluran got (drainase) yang sumbat memperparah keadaan. Air kotor menggenang di area warga yang menimbulkan bau tak sedap dan meningkatkan risiko penyakit.
Warga setempat berharap pihak terkait menurunkan alat berat secepatnya demi membantu perbaikan saluran. Mereka anggap penting agar laju proses pembersihan rumah dan pemulihan dapat berjalan secara maksimal.
“Meski dihadapkan pada keterbatasan, kami tetap bertahan. Semoga kondisi begini segera membaik dan kembali hidup normal dan aman di rumah sendiri,” ungkap Kausar warga Dayah Kleng, Meureudu kepada media ini.(*)












