Habapublik.com, Takengon : Masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah kini terpaksa beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak, menyusul kelangkaan Gas LPG pasca bencana alam yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.
Hingga saat ini, akses jalan nasional yang menghubungkan wilayah tengah Aceh belum berhasil ditembus, sehingga distribusi bahan pokok dan energi menjadi sangat terbatas.
Seorang warga Takengon, Aulia, mengaku harus membeli kayu dari pedagang dadakan dengan harga Rp12.000 hingga Rp15.000 per ikat. Satu ikat berisi sekitar 10 batang kayu, namun tidak mampu bertahan hingga satu minggu. “Kalau mulai menipis, terpaksa beli lagi,” ungkapnya, Rabu (17/12/2025).
Selain kesulitan mendapatkan gas, masyarakat juga menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok. Beras yang biasanya dijual melalui jalur resmi kini dipasarkan oleh individu non-pemerintahan dengan harga Rp380.000 hingga Rp420.000 per karung berisi 15 kilogram. Sementara itu, harga telur melonjak hingga Rp110.000–Rp130.000 per papan.
Kondisi semakin diperparah dengan mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM). Solar maupun Pertamax dijual di kisaran Rp30.000–Rp35.000 per liter, jauh di atas harga normal.
Situasi ini membuat masyarakat Aceh Tengah harus beradaptasi dengan keterbatasan, sembari menunggu upaya pemerintah dan pihak terkait membuka kembali jalur distribusi utama. Per tanggal 17 Desember 2025, bencana alam yang melanda dan belum terbuka akes jalan utama telah memasuki hari ke 22.(*)












