Dua Hari Belajar Marketing, Siswa SMKN 1 Banda Aceh Dekat dengan Industri

para murid sedang mengikuti pembekalan LKS SMK Negeri 1 Banda Aceh pada Senin dan Selasa, 19–20 Oktober 2026. Foto: Dok SMKN 1 Banda Aceh

Habapublik.com, Banda Aceh — Belajar pemasaran tidak cukup hanya dilakukan melalui buku pelajaran, ruang komputer, ataupun simulasi membuat konten digital. Siswa juga perlu memahami bagaimana strategi pemasaran diterapkan dalam bisnis, bagaimana konsumen mengambil keputusan, serta bagaimana perusahaan membangun hubungan dengan pelanggannya.

Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan kegiatan guru tamu dan pembekalan LKS SMK Negeri 1 Banda Aceh pada Senin dan Selasa, 19–20 Oktober 2026, dengan menghadirkan Ahmad Madani sebagai narasumber dan pendamping pembelajaran.

Program dua hari itu menggabungkan pembekalan di sekolah dengan pengalaman belajar dalam lingkungan industri Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh. Pada hari pertama, agenda utama meliputi pengenalan profesi pemasaran masa kini serta pembimbingan calon peserta LKS. Hari kedua difokuskan pada penguatan pembelajaran berbasis industri melalui keterlibatan Dealer Yamaha Alfa Scorpii.

Sesi guru tamu disiapkan untuk 40 siswa kelas XI Bisnis Ritel dan Bisnis Digital bersama enam guru. Sementara itu, pembekalan khusus diarahkan kepada empat calon peserta LKS dan seorang guru pembimbing. Melalui dua bentuk kegiatan ini, sekolah berupaya memperkuat pemahaman profesi sekaligus mempersiapkan kompetensi siswa untuk menghadapi persaingan.

Kepala SMK Negeri 1 Banda Aceh, Sufiani, S.Pd., menekankan arti penting pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan lapangan kerja. “Sekolah memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang terus berubah. Karena itu, kami mendorong kegiatan yang mempertemukan pembelajaran di kelas dengan pengalaman praktisi dan kebutuhan industri,” ujarnya.

Menurut Ketua Program Keahlian Pemasaran, Mardiani, S.Pd., LKS menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kedisiplinan, kemampuan analisis, dan kesiapan menghadapi tantangan profesional. “Persiapan LKS bukan hanya persoalan menguasai materi lomba. Kami juga ingin siswa mampu menyusun strategi, menyelesaikan masalah, mengelola waktu, dan mempertahankan gagasannya ketika diuji,” ungkapnya.

Selain itu Guru Pemasaran, Cut Mitra Susanti, S.Pd., M.M., melihat keterhubungan dengan industri sebagai penguatan penting bagi proses pembelajaran.

“Ketika siswa berhadapan dengan contoh bisnis yang nyata, mereka dapat memahami mengapa riset konsumen, komunikasi pemasaran, pembuatan konten, dan keterampilan menjual perlu dipelajari sebagai satu kesatuan,” tuturnya.

Dalam pembekalan tersebut, salah satu pesan penting yang diangkat adalah perubahan peran marketer di era digital. Seorang marketer tidak cukup hanya mahir menggunakan Canva, TikTok, atau aplikasi berbasis AI. Ia juga harus memahami siapa target konsumennya, persoalan apa yang ingin diselesaikan, pesan apa yang relevan, dan tindakan apa yang diharapkan setelah konsumen menerima informasi pemasaran.

Madani memperkenalkan perspektif bahwa kemampuan pemasaran modern dibangun melalui perpaduan komunikasi, konten, pemahaman bisnis, orientasi pelanggan, dan karakter. Penggunaan AI dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efisien, tetapi keputusan strategis tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk memahami konteks, menilai informasi, dan membangun kepercayaan.

Di lingkungan Yamaha Alfa Scorpii, pembelajaran pemasaran memiliki konteks yang lebih konkret. Dealer menjadi tempat yang relevan untuk memahami perjalanan pelanggan, mulai dari ketertarikan terhadap produk, pencarian informasi, komunikasi dengan tenaga penjualan, hingga proses pengambilan keputusan pembelian.

Sadikin Kwok, BM MDS Alfa Scorpii Banda Aceh, menegaskan pentingnya pemahaman praktik bisnis bagi siswa vokasi.

“Kami berharap siswa dapat melihat bahwa pemasaran dan penjualan membutuhkan pengetahuan produk, kemampuan memahami pelanggan, pelayanan yang baik, serta kerja sama antartim. Pengalaman seperti ini penting untuk mempersiapkan mereka sebelum memasuki dunia kerja”, katanya.

Salah seorang siswa kelas XI Pemasaran, Shina Qisti Fathan, juga menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran tersebut.

“Kami tidak ingin hanya bisa menjelaskan teori pemasaran. Kami juga ingin belajar bagaimana menghadapi konsumen, membuat strategi yang tepat, dan membuktikan kemampuan melalui praktik,” ujar Shina.

Kegiatan ini memperlihatkan peluang kolaborasi yang dapat terus dikembangkan oleh sekolah kejuruan. Sekolah menyediakan fondasi pengetahuan, praktisi menghadirkan wawasan perkembangan profesi, sedangkan dunia industri memberikan konteks penerapannya.

Melalui sinergi tersebut, persiapan LKS diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda kompetisi. Program ini juga dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk membangun portofolio, meningkatkan kesiapan kerja, dan memahami bahwa keberhasilan seorang marketer pada akhirnya diukur dari kemampuan memberikan nilai bagi pelanggan maupun perusahaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *