Opini  

Gampang Jadi Wartawan, Tapi Bukan Pekerjaan Gampangan

Kasmanudin,

Oleh: Kasmanudin

AA KUNTO A. dalam buku karangannya berjudul “Cara gampang jadi wartawan”.

Ia menulis, menjadi wartawan tidak perlu menunggu jadi sarjana atau bergelar tinggi. Bukan gelar yang jadi ukuran kemampuan seseorang untuk menjadi wartawan profesional.

Memang baik berpendidikan tinggi, namun jauh lebih baik berwawasan luas dan berpengetahuan tinggi.

Gampang jadi wartawan, meski wartawan bukan pekerjaan gampangan. Jadi, yang gampang itu tahapan menjadi wartawannya. Selama menjalani profesi ini, itu yang tidak gampang.

Begitu ditulis dalam bukunya, AA Kunto, seorang wartawan senior yang lama melumpur di dunia jurnalistik.

Nah seperti apa orang memandang profesi ini ?. Ada dua pandangan yang saling berbeda. Satu pihak menganggap profesi wartawan

sebagai pekerjaan tidak menarik, tidak terhormat dan yang pasti tidak menghasilkan cukup banyak uang.

Sehingga, secara sinis mengatakan, ” Seorang wartawan bukanlah seorang pria yang menarik untuk diambil sebagai menantu “.

Akan tetapi ada pula pihak yang menganggap, justru, sebagai suatu profesi yang sangat menarik, menantang dan sangat terhormat. Karena, seorang wartawan yang bertanggungjawab, senantiasa mengutamakan kepentingan orang banyak dalam menjalankan tugasnya.

Masih segar dalam ingatan saya di tahun 1993, awal-awal saya terjun ke dunia jurnalistik. Seorang Kepala Dinas tingkat provinsi di Aceh berkata,

” Sekarang sulitnya mencari pekerjaan banyak orang mencari kerja menjadi wartawan”, katanya membuat saya ikut sedih. Masih ada pejabat melirik sebelah mata atas kurang pahamnya sang pejabat tentang peran penting Pers .

Padahal, di Indonesia Pers diakui sebagai kekuatan ke empat dari pilar negeri ini, yaitu eksekutif, legislatif, yudikatif dan Pers.

Pers (kewartawananan) punya kekuatan mengontrol, mendidik, menghibur dan memberikan informasi positif kepada khalayak masyarakat melalui tulisannya.

Kembali kepada ungkapan “menjadi wartawan gampang, tapi bukan kerja gampangan” menyiratkan, proses menjadi seorang wartawan mungkin terlihat mudah, namun pekerjaan seorang wartawan sebenarnya menuntut dedikasi, keterampilan, dan etika yang tinggi.

Bukan Kerja Gampangan

Menjadi wartawan profesional membutuhkan keterampilan menulis yang baik, kemampuan riset, wawancara, berpikir kritis, dan memahami etika jurnalistik.

Begitupun, Wartawan harus siap bekerja keras, menghadapi tekanan deadline, dan mencari informasi dari berbagai sumber.

Wartawan juga dituntut, harus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, bersikap objektif, dan tidak menyebarkan berita palsu atau menyesatkan.

Demikian pun, Wartawan bertanggung jawab atas informasi yang mereka sampaikan kepada publik, yang dapat mempengaruhi opini dan tindakan masyarakat.

Pada intinya, walaupun secara teknis siapa pun bisa menjadi “wartawan” dengan mempublikasikan informasi, menjadi wartawan profesional yang kredibel membutuhkan keterampilan, dedikasi, dan etika yang tinggi. Seorang wartawan harus mampu menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Akhirnya, apa pun pendapat tentang profesi wartawan, masih tetap berguna menjembatani informasi antara pemerintah dengan masyarakatnya, masih diakui sebagai agen pembaharuan. Meski pun profesi ini belum menjanjikan kesejahteraan bagi pelaku- palaku, namun panggilan hati nurani yang tak bisa dibohongi tetap menggeluti profesinya, meskipun hidup apa adanya. (*)

Penulis : Kasmanudin, Tinggal di Kota Banda Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *