Habapublik.com, Blangkejeren: Di bawah langit kelabu Gayo Lues kembali menghadapi musibah. Laporan resmi bencana hidrometeorologi yang dirilis pemerintah daerah per 1 Desember 2025 menunjukkan betapa dahsyatnya bencana yang menyapu hampir seluruh penjuru negeri Seribu Bukit itu. Sebanyak 11 kecamatan terdampak, menjadikan banjir dan longsor kali ini sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah daerah tersebut.
Di banyak tempat, warga hanya mampu berdiri terpaku, menyaksikan rumah, kebun, dan jalanan hanyut perlahan oleh derasnya air. Sebanyak ±14.850 jiwa mengungsi, meninggalkan rumah yang mereka bangun dari hasil jerih payah bertahun-tahun. Sebagian lain masih bertahan tanpa kepastian, bercampur rasa takut yang belum reda.
Lebih memilukan lagi, laporan mencatat 1 korban hilang dan 4 jiwa melayang. Angka ini bukan sekadar data—di baliknya ada keluarga yang kini hidup dalam duka, ada anak-anak yang kehilangan orang tua, dan ada istri atau suami yang kini berjalan tertatih di tengah reruntuhan.
Total ±111.007 jiwa terdampak, jumlah yang menggambarkan betapa luasnya tragedi ini. Ribuan rumah rusak—±2.282 unit tak lagi layak huni, menyisakan hanya dinding-dinding lembab dan lumpur setinggi lutut. Sebanyak 41 jembatan rusak berat, termasuk jembatan gantung yang menjadi nadi penghubung antar desa, kini patah digerogoti arus sungai yang mengamuk.
Akses menuju ibu kota kabupaten terputus. Tujuh kecamatan terisolir total, memaksa warga bertahan dalam gelap karena jaringan listrik di 11 kecamatan padam. Sinyal telekomunikasi pun lenyap—internet dan komunikasi terputus di 11 kecamatan, membuat warga tak bisa memberi kabar kepada keluarga di luar daerah.
Derita bertambah ketika irigasi yang menjadi sumber kehidupan petani turut runtuh. Setidaknya 50 titik irigasi rusak berat, mengancam musim tanam dan mata pencaharian ribuan keluarga. Jaringan air bersih desa juga kolaps—60 desa kini kesulitan air layak konsumsi. Fasilitas umum pun porak-poranda, 5 rumah ibadah rusak, 6 sekolah tak bisa difungsikan, serta 1 puskesmas rusak di tengah kebutuhan medis yang semakin meningkat.
Di beberapa desa, warga hanya bisa menyalakan lilin, menunggu bantuan yang mereka sendiri tidak tahu kapan tiba. Anak-anak menangis ketakutan ketika suara gemuruh air datang kembali di malam hari. Para orang tua berjaga, tak memejamkan mata, mengingatkan satu sama lain agar segera berlari jika hujan turun lebih deras.
Di tengah kegelapan dan keputusan itulah, Gayo Lues kembali menunjukkan keteguhan hati warganya. Relawan bermunculan, sebagian berjalan kaki menyusuri jalan berlumpur, membawa beras, selimut, dan air bersih. Para tenaga kesehatan bekerja tanpa henti, meski fasilitas minim dan listrik tak stabil.
Namun jelas, bencana sebesar ini membutuhkan respons cepat, terpadu, dan besar. Infrastruktur lumpuh. Ribuan keluarga kehilangan rumah. Anak-anak kehilangan sekolah. Dan alam, tanpa ampun, telah merenggut bukan hanya harta, tapi juga nyawa.
Saat ini, Gayo Lues menunggu uluran tangan—dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, hingga saudara sebangsa. Karena di balik data dan angka yang terpampang di atas kertas itu, ada satu pesan sunyi yang ingin disampaikan warga “Kami butuh bantuan. Kami ingin hidup kembali.”(*)












