Daerah  

Kementerian Kehutanan Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Putri Betung

Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar TNGL menyalurkan bantuan tahap pertama berupa 120 paket sembako senilai Rp60 juta untuk warga dua desa terdampak, Kamis (11/12/2025). Foto: Kamsah.

*TNGL Menembus Desa-Desa Terisolasi 

Habapublik.com, Blangkejeren: Aroma lumpur basah masih menyengat di udara Putri Betung. Di sepanjang tepi sungai, batang-batang kayu besar terjajar tak beraturan, seolah mengisahkan betapa dahsyatnya banjir yang menyapu dua desa di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) pada awal Desember lalu. Rumah-rumah yang sebelumnya tegak kini berubah menjadi rangka kayu. Sebagian lainnya hilang tanpa jejak, akibat terseret arus yang datang tiba-tiba.

Di Desa Ramung Musara dan Singah Mulo, dua desa yang berada tepat di jantung kawasan konservasi, warga masih menyisir puing-puing sambil berharap menemukan sisa barang yang mungkin bisa diselamatkan. Di beberapa titik, anak-anak bermain tanpa alas kaki, menginjak lumpur yang belum sepenuhnya kering. Wajah-wajah mereka menampakkan letih, namun juga ketabahan yang tak pernah padam.

Di tengah suasana itulah, secercah harapan hadir. Pada Kamis (11/12/2025), Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar TNGL menyalurkan bantuan tahap pertama berupa 120 paket sembako senilai Rp60 juta untuk warga dua desa terdampak. Bantuan ini disalurkan langsung melalui jalur darat yang sebelumnya sempat terputus akibat longsor dan kondisi jalan yang rusak parah.

Kepala Seksi Taman Nasional Wilayah III Blangkejeren, Alisadikin, SH., MH, kamis (11/12/2025)  memimpin langsung distribusi bantuan tersebut. Yang di bantu seluruh stafnya dengan sepatu yang tertutup lumpur dan wajah yang terlihat lelah karena menempuh perjalanan panjang, ia memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan.

“Banyak keluarga kehilangan rumah dan kini tinggal menumpang di rumah kerabat atau pos darurat kecil yang mereka dirikan sendiri. Bantuan ini kami prioritaskan bagi mereka yang kondisi hidupnya benar-benar porak-poranda,” ujar Alisadikin, menahan keprihatinan saat menyaksikan warga menerima bantuan.

Menurut Alisadikin, TNGL juga telah menyiapkan bantuan tahap kedua yang akan disalurkan ke Desa Marpunge dan sebagian wilayah Uning Pune. Dua desa ini juga mengalami kerusakan berat, namun penyaluran harus dilakukan bertahap karena akses masih sangat terbatas. Beberapa ruas jalan masih dipenuhi material longsor, sementara jembatan kecil yang menjadi penghubung antar permukiman belum bisa dilalui kendaraan berat.

Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar TNGL menyalurkan bantuan tahap pertama berupa 120 paket sembako senilai Rp60 juta untuk warga dua desa terdampak, Kamis (11/12/2025). Foto: Kamsah.

Di lapangan, momen penyaluran bantuan berlangsung penuh haru. Warga, sebagian dengan pakaian penuh tanah, tampak berkumpul di halaman desa yang kini berubah menjadi pos darurat. Mereka menerima paket sembako sambil mengusap mata, berterima kasih karena bantuan datang pada saat paling dibutuhkan.

“Apa pun yang kami punya sudah hanyut. Baju anak pun tak banyak tersisa. Kami bersyukur ada bantuan seperti ini,” ujar Sumardi, warga Ramung Musara, sambil memeluk erat paket sembako yang baru diterimanya.

Bagi warga yang sedang berjuang bangkit, paket sembako itu bukan hanya beras, minyak goreng, atau kebutuhan pokok lainnya. Ia adalah tanda bahwa negara hadir, bahwa ada pihak yang memperhatikan kondisi mereka meski berada jauh di pedalaman Seribu Bukit.

Sementara itu, pemerintah daerah masih terus membuka jalur logistik dan menormalkan akses yang terputus. Namun proses tersebut membutuhkan waktu mengingat kondisi geografis Putri Betung yang dipenuhi tebing dan lereng curam. Di beberapa titik, warga bersama aparat dan relawan harus bekerja bergantian membersihkan material longsor agar bantuan dapat kembali menjangkau desa mereka.

Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, kehadiran TNGL memberi sinyal kuat bahwa pemulihan Putri Betung membutuhkan kolaborasi lintas lembaga. Bukan hanya pemerintah daerah, tetapi juga kementerian yang menaungi kawasan hutan terbesar dan terpenting di Aceh.

Menjelang sore, kabut mulai turun menutupi lembah. Di balik hening itu, suara alat berat terdengar samar dari kejauhan, menandakan upaya pemulihan masih terus berjalan. Wargapun kembali ke tempat tinggal tinggal sementara.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *