Daerah  

AKQ Semakin Diminati, Jamaah Baru Berdatangan Hadiri Bedah Buku “Mengapa Kita Harus Berdoa?”

Kegiatan rutin mingguan AKQ (Akademi Kehidupan Qur’ani) bersama Jama’ah Beut Droe berlangsung dengan antusiasme yang semakin tinggi. Pengkajian digelar di Teugu Teuku Umar, Batee Puteh, Aceh Barat, pada Minggu pagi ini. Foto: Ist.

Habapublik.com, Aceh Barat — Kegiatan rutin mingguan AKQ (Akademi Kehidupan Qur’ani) bersama Jama’ah Beut Droe kembali berlangsung dengan antusiasme yang semakin tinggi. Pengkajian yang digelar di Teugu Teuku Umar, Batee Puteh, Aceh Barat, pada Minggu pagi ini diwarnai dengan bertambahnya jamaah baru dari berbagai latar belakang dan profesi.

Melalui forum Gerakan 15 Menit Membaca, para peserta mengikuti bedah buku karya Ustadz Syamsul Kamal berjudul “Mengapa Kita Harus Berdoa? Mengungkap Rahasia Mengapa Hidup Seorang Mukmin Dibingkai oleh Doa dari Lahir hingga Mati.”

Kehadiran peserta baru menjadi indikasi bahwa model pembelajaran yang dikembangkan AKQ semakin diterima masyarakat. Suasana pengajian yang terbuka, dialogis, dan menempatkan kajian sebagai pusat pembelajaran membuat banyak peserta merasa nyaman untuk belajar bersama tanpa memandang latar belakang organisasi, profesi, maupun tingkat pendidikan.

Dalam pengkajian tersebut, Ustadz Syamsul Kamal menegaskan bahwa doa bukanlah pelengkap kehidupan seorang mukmin, melainkan ibadah itu sendiri. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa “Doa adalah ibadah.”

Menurutnya, hakikat doa tidak berhenti pada aktivitas meminta atau mengharapkan terpenuhinya keinginan, tetapi merupakan wujud penghambaan dan pengakuan akan kelemahan manusia di hadapan Allah SWT.

“Tujuan terdalam dari berdoa bukan sekadar memperoleh apa yang kita minta, tetapi membangun sangkutan hati kepada Allah. Doa adalah pengakuan bahwa kita adalah hamba yang fakir, sedangkan Allah adalah As-Ṣamad, Dzat Yang Maha Menjadi Tempat Bergantung segala makhluk,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.»

Ia menjelaskan bahwa setiap doa sejatinya adalah penegasan tauhid, bahwa tidak ada tempat bergantung yang hakiki selain Allah. Semakin seseorang memahami makna doa, semakin kuat pula rasa kehambaannya, tawakalnya, dan kedekatannya dengan Sang Khalik.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman tentang doa-doa yang lazim diamalkan dalam kehidupan sehari-hari beserta makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Pembahasan ini disusun sebagai respons atas antusiasme jamaah pada pertemuan sebelumnya yang menginginkan pembelajaran doa secara lebih mendalam, baik dari sisi bacaan maupun pemaknaannya.

Selain itu, forum mengupas berbagai persoalan yang sering menjadi pertanyaan di tengah masyarakat, seperti hubungan doa dengan ikhtiar dan tawakal, adab berdoa, waktu-waktu mustajab, serta bagaimana menyikapi doa yang belum tampak terkabul.

Sebagaimana menjadi ciri khas kegiatan AKQ, majelis diawali dengan mengaji lima ayat Al-Qur’an beserta artinya, dilanjutkan dengan membaca tiga hadis beserta maknanya, Gerakan 15 Menit Membaca, sesi berbagi pembelajaran dan refleksi kehidupan, pendalaman materi, kemudian ditutup dengan zikir dan doa bersama.

Ustadz Syamsul Kamal menambahkan bahwa keberhasilan doa tidak semata diukur dari terkabul atau tidaknya permintaan seseorang.

«“Yang paling penting adalah apakah doa itu membuat hati kita semakin dekat kepada Allah. Sebab puncak dari doa bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan menjadi hamba yang senantiasa bergantung kepada-Nya dan ridha atas ketentuan-Nya,” ungkapnya.»

AKQ berharap kegiatan rutin ini terus menjadi ruang literasi ruhani yang membangun kecintaan masyarakat kepada Al-Qur’an, sunnah, dan tradisi berpikir yang reflektif.

Dengan bertambahnya jamaah baru dari pekan ke pekan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat serta menyadari bahwa doa bukan sekadar untaian kata, melainkan napas penghambaan yang membingkai perjalanan seorang mukmin sejak lahir hingga kembali kepada Allah SWT. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *