Angka Balita Stunting Kota Lhokseumawe, Masih Tinggi di Empat Kecamatan

Petugas dari Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe sedang menangani kasus stunting di daerah tersebut.(Foto/Alfatir).

Habapublik.comLhokseumawe : Meski pun program pendampingan telah banyak penurunan, namun Hingga tahun 2024 diwilayah kota lhokseumawe masih terdapat sekitar 796 kasus balita stunting yang berasal dari kelurga miksin. Sementara sebelumnya tahun 2022 tercatat sekitar 1022 balita Stunting.

Kepala Bagian Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Lhokseumawe Zahara M.Kes, mengatakan jumlah 796 lebih balita penderita stunting dan gizi buruk dari keluarga eknomi menengah kebawah tersebut marupakan hasil pendataan yang dilakukan petugas dipuskesmas dan Posyandu di 4 Wilayah Kecataman Kota Lhokseumawe.

Dari pendataan petugas terungkap anak usia dibawah lima tahun (balita ) Stunting tersebut bukan hanya disebabkan karena kurag asupan gizi, atau pola asuh yang salah dari orang tua, namun lemanya data langkap imuniasi juga menjadi penyebab jatuhnya sakit pada bayi yang berdampak pada kasus Gizi Buruk.

”Apalai balita dibawah 2 tahun itu gampang sekali jatuh sakit, jadi Balita Stunting itu bukan hanya karena faktor Gizi saja, namun kurang nya pemahaman ibu hamil usia dini, ada juga yang disebabkan seperti kurang makan tambahan yang wajib diberikan kepada balita usia 6 bulan, termasuk data lengkap Imunasi Pada bayi yang masih jauh dari harapan,” Kata Zahara.

Selain lemahnya Pemahaman ibu hamil dalam menjaga kesehatan bayi dibawah usian 2 tahun, , persoalan kebersihan lingkungan juga dikatakan Zahara menjadi pemicu terjadinya kasus balita stunting dari keluarga Miskin.

”Terus satu lagi masalah buang air besar seperti tidak punya jamban, apalagi ada yang merokok dalam rumah, itu sangat berpengaruh karena seorang ibu hamil itu ia butuh lingkungan bersih,’ Kata Zahara.

Sementara disinggung Komitmen penurunan angka Stunting, Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Kesehatan terus mengerahkan petugas di Puskesmas dan pos Yandu juga Bidan Desa untuk melakukan penyuluhan dan pendapingan dengan penambahan pemberian makan tambahan kepada balita.

”Paling tidak peran kader dan petugas Pos yandu juga Bides itu bisa melakukan pengukuran dan pembangan bayi juga pengisian Aplikasi data itu jumlah 796 balita stuntng janganlah bertambah tapi kita usahan akagar berkurang kedepan,” Pinta Zahara M.Kes.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *