Daerah  

Kunjungi Dua Desa Tertinggal, Pj Bupati Pijay Bahas Solusi Infrastruktur dan Pelayanan Dasar

Pj Bupati Pijay Teuku Ahmad Dadek, diapit oleh Camat Meurah Dua, Iskandar (kanan) dan Keushik Lhok Sandeng, Mursalin. Foto/Humas Prokopimda Pijay.

Habapublik.com, Meureudu: Penjabat (Pj) Bupati Pidie Jaya, T. Ahmad Dadek melakukan kunjungan ke dua desa tertinggal yang ada di Kecamatan Meurah Dua, Pijay yakni Desa Lhok Sandeng dan Sarah Mane, pada Kamis (16/1/2025).

Kunjungannya bersama para rombongan Prokopimda ini bertujuan untuk meninjau langsung kondisi serta keluhan kedua desa tersebut, yang termasuk dalam kategori desa/gampong tertinggal di Aceh.

Dalam kesempatan itu Keushik Lhok Sandeng, Mursalin dan Keushik Sarah Mane, M. Mahdi turut hadir mendampingi Pj Bupati. Kedua Keushik tersebut menyampaikan sejumlah keluhan warga yang dianggap mendesak.

Ahmad Dadek menjelaskan bahwa dari 33 desa tertinggal di Aceh, dua di antaranya berada di Pidie Jaya, yaitu desa Lhok Sandeng dan desa Sarah Mane. Desa Lhok Sandeng ini memiliki 50 kepala keluarga dengan total 208 jiwa.

“Sedangkan desa Sarah Mane yang dihuni oleh 101 kepala keluarga dengan total populasi 300 jiwa. Meski begitu Lhok Sandeng memiliki DD lebih dari Rp900 juta per tahun, akan tetapi tantangan pembangunan masih signifikan terhadap desa itu,” kata Pj Bupati Pijay.

Pj Bupati Pijay menyebutkan suntikan Dana Desa (DD) yang cukup besar, seperti di Lhok Sandeng dengan anggaran di atas Rp900 juta, seharusnya dapat dimanfaatkan lebih maksimal melalui kolaborasi dengan Pemkab demi memastikan pembangunan yang berkelanjutan untuk masyarakat.

Sementara itu rangkuman siaran pers yang dikutip media ini dari Kabag Humas Prokopimda Pijay, M. Riza Andika sejumlah permasalahan yang dihadapi desa tertinggal tersebut diantaranya:

1. Akses Jalan dan Infrastruktur

Jalan menuju Lhok Sandeng dan Sarah Mane, serta jalan penghubung antar dusun, masih dalam kondisi buruk, sehingga menyulitkan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

2. Akses Kesehatan

Polindes atau fasilitas kesehatan di desa berada jauh dari jangkauan masyarakat, terutama bagi lansia, ibu hamil, dan anak-anak yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar.

3. Jaringan Internet

Tidak adanya jaringan internet menjadi kendala besar dalam mendukung pendidikan dan pelayanan publik, terutama di era digital saat ini.

4. Listrik dan Air Bersih

Sebagian besar rumah tangga di kedua desa belum memiliki sambungan listrik yang memadai. Selain itu, ketersediaan air bersih juga menjadi masalah utama yang mengancam kualitas hidup warga.

5. Akses Pendidikan

Kurangnya fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah dan sumber daya guru menghambat peningkatan kualitas pendidikan di kedua desa.

Selaras dengan dengan itu, dalam hal ini Pj Bupati Ahmad Dadek mencanangkan langkah strategis untuk mengatasi permasalahan dua desa dimaksud, yaitu dengan;

1. Perbaikan Infrastruktur Jalan

Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya akan memprioritaskan perbaikan jalan desa dan jalan antar dusun melalui program APBK 2025 dan pemanfaatan Dana Desa.

2. Fasilitas Kesehatan

Pembangunan polindes baru atau peningkatan fasilitas kesehatan yang ada akan menjadi prioritas. Selain itu, layanan kesehatan keliling akan diadakan untuk menjangkau masyarakat di area terpencil.

3. Jaringan Internet

Pemkab akan berkoordinasi dengan Telkom untuk membangun Base Transceiver Station (BTS) di sekitar desa. Alternatif lainnya, desa dapat memanfaatkan program Starlink dengan dukungan dari pemerintah daerah.

4. Listrik dan Air Bersih

PLN akan diminta untuk meningkatkan jaringan listrik di desa, sementara program penyediaan air bersih akan digalakkan melalui kerja sama dengan instansi terkait dan penggunaan dana desa yang tersedia.

5. Akses Pendidikan

Perbaikan gedung sekolah, pengadaan guru kontrak, dan peningkatan pelatihan untuk guru akan menjadi prioritas. Pemerintah juga akan mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung pendidikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *