Habapublik.com, Blangkejeren — Di tengah derasnya arus perubahan zaman, suara anak-anak muda yang berpidato menggunakan bahasa Gayo menjadi pengingat bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di hati generasi penerus.
Suasana itulah yang terasa dalam Lomba Pidato Bahasa Daerah Gayo Lues Tahun 2026 yang diselenggarakan Komunitas Anak Seribu Bukit.
Bukan sekadar perlombaan untuk memperebutkan piala dan penghargaan, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar mencintai bahasa, budaya dan jati diri daerahnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Salid, S.Pd., M.M., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, melestarikan bahasa daerah merupakan bagian dari menjaga amanah budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
“Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas kita. Ketika seorang anak mampu berdiri di depan orang banyak dan menyampaikan pidato dalam bahasa Gayo dengan percaya diri, sesungguhnya ia sedang menunjukkan bahwa budaya daerah kita masih hidup dan memiliki tempat di tengah perkembangan zaman,” ujar Salid.
Baginya, menjaga bahasa Gayo bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah. Orang tua, keluarga, guru, komunitas dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan bahasa tersebut tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Sebab, sebelum seorang anak mengenal dunia yang luas melalui teknologi, ia terlebih dahulu mengenal dunia melalui bahasa yang diajarkan keluarganya.
“Bahasa itu bukan hanya kata-kata. Di dalamnya ada sejarah, adat, nasihat, sopan santun dan nilai kehidupan. Karena itu, jangan sampai anak-anak kita mengenal banyak bahasa dari luar, tetapi justru perlahan melupakan bahasa daerahnya sendiri,” katanya.
Dinas Pendidikan Pastikan Kegiatan Berlanjut
Salid menegaskan, kegiatan Lomba Pidato Bahasa Daerah Gayo tidak akan berhenti pada tahun 2026.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan yang semakin luas sehingga semakin banyak anak Gayo Lues mendapatkan kesempatan untuk belajar dan tampil menggunakan bahasa daerah.
“Saya berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada perlombaan hari ini saja. Mari kita jadikan momentum ini sebagai bagian dari gerakan bersama untuk terus menghidupkan bahasa daerah di lingkungan sekolah, keluarga, dan Gayo Lues,” ujar Salid.
Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya.
Anak-anak Gayo Lues harus didorong untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memiliki karakter, akhlak, serta kecintaan terhadap adat dan budaya daerah.
“Kita ingin anak-anak Gayo Lues mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama tetap mengenal bahasa, adat, sejarah, dan budaya Gayo,” tuturnya.
Salid menyampaikan selamat kepada seluruh pemenang. Namun, ia mengingatkan agar penghargaan tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Menurutnya, anak yang berani berdiri di hadapan orang banyak, berbicara dengan bahasa daerah dan menunjukkan kemampuannya juga telah memberikan kebanggaan tersendiri.
“Yang paling penting bukan hanya siapa yang mendapat juara. Keberanian anak-anak untuk tampil, belajar dan menjaga bahasa daerah adalah kemenangan kita bersama,” katanya.
Ia juga mengajak para peserta untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah. “Teruslah belajar dan berbuat baik. Insyaallah, setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil terbaik,” pesannya.(*)
Nataysa Putri Raih Juara I
Dalam perlombaan tersebut, Nataysa Putri dari SMP Negeri 1 Blangkejeren berhasil meraih Juara I.
Juara II diraih Fatimah dari SMA Negeri 1 Kutapanjang, sedangkan Juara III diraih Naiyira Farzana dari SMPT Muhammadiyah Gayo Lues.
Untuk kategori harapan, Juara Harapan I diraih Riduansyah dari Dayah Babussalam Ume Serap, Juara Harapan II diraih Faizah Khayla dari SMP Negeri 4 Blangkejeren.
Sementara untuk Juara Favorit diraih Humaira Ariqah dari SMPT Muhammadiyah Gayo Lues.












