Judi, Narkoba, Pelacuran Plus Korupsi, lengkap sudah kerusakan yang dialami bangsa kita, kaum moralis bisa apa?
Konon dikisahkan bahwa sebelum dilantiknya Nabi Muhammad SAW menjadi Pemimpin (Rasul) dengan tugas utama yaitu untuk merevolusi mental ummat manusia, perbuatan-perbuatan seperti perjudian, pelacuran, mabuk-mabukan dan juga korupsi memang sudah menjadi adat dan kebiasaan bahkan menjadi trend di kalangan kaum jahiliah.
Kini, setelah empat belas abad berlalu, perilaku dan praktik-praktik jahiliah tersebut kembali tumbuh subur, bahkan dengan cara-cara yang jauh lebih canggih dan modern mengikuti perkembangan zaman.
Dalam sejarah kehidupannya, Rasulullah dengan segala keterbatasan, tekanan, kesulitan dan bahkan ancaman yang dihadapinya tetap teguh menjalankan misinya mulia yang Allah amanahkan kepadanya yaitu untuk merevolusi mental manusia, dari mental jahiliyah menjadi mental Islamiyah.
“Tidaklah aku diutus kecuali untuk merevolusi (merubah) akhlak manusia” Demikian Rasulullah menegaskan terkait mandat yang diberikan Allah kepadanya.
Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW menjalankan misi revolusionernya dengan cara bertahap, mulai dengan cara sembunyi-sembunyi, secara tertutup, door to door, face to face hingga kemudian perlahan tapi pasti bertransformasi menjadi revolusi besar-besaran yang dijalankan secara terbuka.
Apakah kampanye perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah Cs berjalan dengan mulus? Tentu tidak, lalu apakah Rasulullah menyerah? Juga tidak, ada kebulatan tekad, ada kerelaan untuk berkorban, keberanian untuk menghadapi tekanan bahkan ancaman di hati Rasulullah sebagai pemimpin perubahan dan juga orang-orang terpilih yang senantiasa mendukungnya.
Tapi apa? Apa yang dilakukan oleh Rasulullah benar-benar merupakan sebuah upaya yang sungguh-sungguh, bukan demi kekuasaan, bukan demi kekayaan, bukan demi kemegahan, bukan sebatas basa-basi dan juga bukan sebatas pencitraan semata.
Tidak mungkin Rasulullah beserta para pengikutnya rela mengorbankan tenaga, harta, keluarga bahkan jiwa jika perjuangan revolusioner tersebut dilakukan bukan benar-benar karena Allah SWT.
Rasulullah Cs sama sekali tidak tergoda dengan harta, dengan tahta bahkan juga dengan wanita, toh dalam perjalanan perjuangannya selain menghadapi tantangan dan juga ancaman juga banyak datang tawaran-tawaran yang menggiurkan dari musuh untuk meluluhkan tekad bulat Rasulullah Dkk.
Sejarah mencatat kaum kafir Quraisy melalui orang yang dipercayanya berupaya menghentikan pergerakan revolusioner Rasulullah dengan menawarkan sejumlah harta, menawarkan kekuasaan, menawarkan sejumlah perempuan cantik yang siap diberikan sebagai kompensasi jika Rasulullah Cs rela menghentikan perjuangannya.
Tapi apa? Rasulullah Cs tetap tidak goyah, bahkan saking kuatnya ideologi perjuangan Rasulullah, dikisahkan ia tetap akan menolak jika matahari, bulan dan bintang diberikan kepadanya, ia tetap tidak akan berpaling dari kebenaran yang diperjuangkannya, sehingga akhirnya setelah berbagai lika-liku sulit nan sakit yang dihadapinya Rasulullah berhasil merubah wajah ummat kala itu bahkan masih kita rasakan hingga kini yaitu dari mentalitas jahiliyyah yang setiap hari dan setiap detikanya senantiasa mengangkangi perintah Allah menjadi manusia-manusia yang bermental Islamiyyah yang senantiasa menjunjung tinggi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Tapi sayang hari ini, 1400 tahun sejak gerakan revolusioner tersebut meletus di tengah ummat manusia, kita kembali menemukan kenyataan bahwa kehidupan kita sudah kembali ke kehidupan jahiliyyah, di mana judi, zina, mabuk-mabukan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan seolah kembali menjadi hal yang biasa.
Sungguh sangat menyedihkan bukan? Akhirnya dengan momentum tahun baru hijriah, penulis berharap kita yang masing mengaku sebagai kaum moralis yang masih setia pada nilai-nilai ideologis yang diajarkan oleh Rasulullah agar bisa merenungkan kembali betapa pedihnya perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah Cs, agar kita kembali memiliki rasa tanggung jawab untuk dapat kembali melanjutkan perjuangan revolusioner tersebut untuk mengembalikan kehidupan ummat menuju jalan yang benar.
Kita mulai dari diri kita sendiri sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, secara perlahan-lahan kita terus saling mengingatkan sesama orang-orang terdekat kita agar kita bisa kembali hijrah dari jalan jahiliyah kembali menuju jalan Islamiyah.
Tidak ada kata tidak mampu, semua kita bisa terlibat, selemah apapun kita, toh Rasulullah sudah menitahkan ” Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu ( dengan kekuasaan dan kewenangan yang ada), jika tidak sanggup (tidak kuasa) maka ubahlah dengan lidahmu (dengan sebatas menasehati dan mengajak), dan jika kita juga tidak mampu (tidak punya keahlian yang memadai) maka ubahlah dengan hati (dengan membencinya), dan itulah sedhaif-dhaif iman”.
Artinya kita semua harus terlibat, kita semua harus berbuat, kita semua harus bertanggung jawab, hanya dengan kerja sama, kerja keras dan kerja iklas kita semua kita akan mampu mengubah keadaan ummat.
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah” demikian agama kita menggariskannya.
Selamat tahun baru hijriah, Semoga kita semua bisa hijrah dari kehidupan jahiliyyah untuk kembali ke kehidupan yang Islamiyyah, semoga kita semua terselamatkan dari perilaku-perlaku yang dimurkai oleh Allah SWT. (*)
Penulis: Ramadhan Al Faruq, Alumnus IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.












