Habapublik.com, Subulussalam : Pemerintah Kota Subulussalam tengah mematangkan langkah besar untuk mentransformasi wajah pendidikan di wilayah Bumi Syekh Hamzah Fansuri. Kehadiran Sekolah Nasional Terintegrasi kini menjadi prioritas utama guna memutus rantai kemiskinan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini hingga jenjang menengah atas.
Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik gedung sekolah, melainkan upaya strategis untuk menghadirkan keadilan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia berharap Subulussalam dapat terpilih sebagai lokasi berdirinya program unggulan pusat tersebut karena letak geografisnya yang sangat krusial di wilayah perbatasan.
“Kami sangat optimis dan penuh harapan agar Sekolah Nasional Terintegrasi ini dapat berdiri di Kota Subulussalam. Ini adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan yang terpenting adalah bebas pungutan bagi semua anak daerah,” ujar H. Rasyid Bancin, Selasa 12 Mei 2026.
Program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini mengusung konsep satu atap yang menggabungkan jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK dalam satu kawasan terpadu. Inovasi ini dirancang untuk memastikan transisi pendidikan siswa berjalan berkesinambungan tanpa terkendala jarak fisik antar jenjang sekolah yang seringkali menjadi hambatan di daerah.
Keunggulan utama dari sekolah ini terletak pada infrastruktur yang modern dan fasilitas lengkap yang melampaui standar sekolah konvensional saat ini. Lingkungan belajar yang canggih disiapkan untuk menunjang kreativitas dan adaptasi siswa terhadap perkembangan teknologi dunia kerja di masa depan.
Selain fasilitas fisik, aspek inklusivitas menjadi nyawa dari Sekolah Terintegrasi Nasional ini. Sekolah ini terbuka bagi semua kalangan, termasuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak berkebutuhan khusus, sekaligus memastikan beban biaya pendidikan tidak lagi menjadi momok bagi orang tua murid.
Pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen menitikberatkan program ini untuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan pemerataan mutu pendidikan agar kualitas lulusan di daerah perbatasan seperti Subulussalam mampu bersaing dengan siswa yang berada di kota-kota besar.
Sektor pendidikan vokasi juga mendapat porsi khusus dalam kurikulum terintegrasi ini. Fokusnya adalah membekali lulusan dengan keterampilan teknis yang siap pakai, sehingga para siswa dapat langsung terserap ke dunia industri atau menciptakan lapangan kerja baru segera setelah menyelesaikan masa studinya.
Dukungan penuh terus mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Wakil Wali Kota, jajaran Kepala SKPK, hingga tokoh masyarakat setempat. Sinergi antara tim BPMP Aceh dan tim survei Kemendikdasmen diharapkan dapat segera membuahkan rekomendasi positif agar pembangunan sekolah ini dapat segera direalisasikan demi masa depan generasi muda Subulussalam.(*)












