Penyembelihan Ternak Meugang Idul Adha di Sabang Menurun

Penjualan daging meugang di Sabang dilakukan di Gampong Kuta Barat (Jalan Malahayati), Gampong Cot Ba’U, Gampong Ie Meulee, dan Gampong Paya Seunara. Foto/Difa.

Habapublik.com, Sabang : Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, tradisi meugang di Kota Sabang tetap berlangsung semarak meskipun terjadi penurunan jumlah penyembelihan ternak dibandingkan meugang Idul Fitri lalu. Tradisi ini berlangsung dalam dua hari, yaitu Rabu dan Kamis, 4-5 Juni 2025.

Pada meugang pertama Idul Adha, tercatat sebanyak 27 ekor sapi dan 2 ekor kerbau disembelih oleh 29 pedagang yang tersebar di beberapa lokasi. Penjualan daging dilakukan di Gampong Kuta Barat (Jalan Malahayati), Gampong Cot Ba’U, Gampong Ie Meulee, dan Gampong Paya Seunara.

“Jumlah penyembelihan ternak pada meugang Idul Adha ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan meugang Idul Fitri, khususnya dari segi jumlah sapi. Kalau secara keseluruhan itu selama dua hari ada 46 ekor,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang Fachri, SE, M.AP melalui Kepala Bidang Peternakan Ir. Hariadi, Kamis (05/06/2025).

Meugang kedua yang jatuh pada Kamis (5/6/2025), tercatat sebanyak 16 ekor sapi dan 1 ekor kerbau disembelih oleh 17 pedagang. Lokasi penjualan daging tersebar di Gampong Kuta Barat, Cot Ba’U, dan Ie Meulee.

“Jika dibandingkan dengan meugang Idul Fitri, terjadi penurunan pada jumlah pedagang dan lokasi penjualan, namun harga daging tetap stabil di kisaran Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram,” lanjut Hariadi.

Sebagai perbandingan pada meugang Idul Fitri 1446 H secara keseluruhan sebanyak 51 ekor ternak, meugang pertama yang jatuh pada 29 Maret 2025, jumlah sapi yang disembelih mencapai 29 ekor dan kerbau 1 ekor, dengan total 30 pedagang. Sementara meugang kedua pada 30 Maret 2025, jumlah sapi yang dipotong sebanyak 21 ekor dengan jumlah pedagang 21 orang.

Lokasi penjualan pada Idul Fitri lebih luas dibanding Idul Adha, termasuk Gampong Balohan yang tidak terdata pada Idul Adha tahun ini. Meskipun terjadi penurunan jumlah ternak, antusiasme warga Sabang tetap tinggi dalam menyambut hari besar keagamaan melalui tradisi meugang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *