Habapublik.com, Blangkejeren: Dua bulan setelah bencana melanda Kabupaten Gayo Lues, pemulihan belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah. Desa Lesten, Kecamatan Pining, menjadi potret paling nyata, akses jalan rusak, lahan penghidupan tertutup longsor, dan warga masih bertahan dalam keterbatasan.
Minggu (18/1/2026), Bupati Gayo Lues Suhaidi bersama Wakil Bupati H. Maliki, Kapolres Gayo Lues, dan rombongan kembali menempuh jalur berat dari Blangkejeren menuju Pining. Perjalanan itu tidak hanya menguji kendaraan, tetapi juga keseriusan negara dalam menjangkau warganya pascabencana.
Beberapa kali kendaraan rombongan terperosok di jalan licin dan berlubang. Rombongan terpaksa berhenti berulang kali. Tanpa komando, semua turun tangan, menarik kendaraan dari lumpur, memastikan perjalanan bisa dilanjutkan. Situasi tersebut sekaligus menjadi gambaran: akses menuju Lesten masih jauh dari kata pulih.
Ketika rombongan tiba, sambutan warga berlangsung hangat. Senyum dan jabat tangan menyambut para pemimpin daerah yang datang. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan yang belum terjawab. Warga menyampaikan hari-hari sulit pascabencana—aktivitas ekonomi terhenti, lahan pertanian rusak, dan ketergantungan pada bantuan masih tak terhindarkan.
Bupati dan Wakil Bupati meninjau langsung kawasan Seribu Bukit di sekitar Lesten. Longsor telah meratakan lahan-lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Kerusakan itu bukan sekadar persoalan alam, tetapi ancaman serius bagi keberlanjutan hidup masyarakat desa.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pemulihan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur darurat. Jalan yang belum layak, akses yang terputus, serta hilangnya sumber nafkah menunjukkan pemulihan belum berjalan merata.
Bantuan dan perlengkapan yang diserahkan kepada warga memang menjadi penyangga sementara. Namun, tanpa percepatan perbaikan akses dan kepastian pemulihan ekonomi, Lesten berisiko tetap tertinggal di tengah proses rehabilitasi pascabencana.
Dua bulan setelah musibah, kehadiran kepala daerah di Lesten mengirimkan pesan penting: kepemimpinan tidak boleh berhenti pada respons awal. Namun kunjungan juga menyisakan pertanyaan yang lebih besar—seberapa cepat dan sejauh mana komitmen pemulihan itu akan diwujudkan.
Sebab bagi warga Lesten, pemulihan bukan soal siapa yang datang, melainkan kapan kehidupan mereka benar-benar kembali bergerak.(*)












