Opini  

Persiraja Etalasenya Pemain Lokal Aceh

Ramadhan Al Faruq

“Ah sudah gak musim pemilu, mana ada lagi Persiraja, kita tunggu empat tahun lagi biar ada lagi kata “Habeih ube Habeih!” Kata sebahagian fans Persiraja dengan nada patah hati nan kecewa ketika melihat satu persatu pemain idola mereka angkat koper untuk “terbang lebih tinggi” dari Persiraja.

“Benar bahwa Persiraja gagal Promosi, tetapi persiraja berhasil mempromosikan pemain-pemain “tarkam” menuju pentas sepakbola Nasional” “Dortmundnya Sumatera nih wak, cari pemain tarkam, poles lalu jual, sayangnya gak dapat duit, karena kontraknya cuma satu musim” tulis yang lainnya merespon positif kepergian beberapa pemain “tarkam” yang berhasil diorbit oleh Persiraja musim lalu untuk berlabuh ke Club luar Aceh.

Dua pandangan di atas sejatinya tidak ada yang salah, tinggal kita mau lihat dari sisi mana? Adalah realitas bahwa di setiap musim jelang pemilu Persiraja selalu tampil “kesetanan”, sehingga banyak pihak mengat-ngaitkannya dengan musim politik di mana sang Presiden Nazaruddin Dek Gam juga sudah dua kali terpilih setelah kisah suksesnya bersama Persiraja juga “kebetulan?” terjadi tepat di musim kampanye yakni jelang pileg 2019 di mana Persiraja berhasil promosi ke liga 1 dan Dek Gam “promosi” ke DPR RI untuk pertama kalinya.

Kisah serupa terulang lagi musim lalu di mana Persiraja “hampir” promosi lagi ke liga 1 dan Dek Gam “beneran” terpilih lagi ke DPR RI untuk ke dua kalinya. Sehingga nada-nada yang mengaitkan Persiraja dengan politik sulit untuk dibantah.

Dan juga realitas yang tak terbantahkan bahwa untuk hari ini hanya Dek Gam yang mau dan mampu menjaga eksistensi Persiraja sebagai satu-satunya club Aceh yang masih eksis di sepakbola Nasional meski hanya sebatas bertahan di liga 2.

Dan sekali lagi adalah realitas juga yang tidak terbantahkan bahwa sedari dulu Persiraja kerap menjadi batu loncatan bagi pemain lokal Aceh untuk menginjakkan kakinya di pentas sepakbola Nasional.

Ada yang sukses juga tidak sedikit yang gagal, sebut saja nama Ismed Sofyan yang kemudian menjadi legenda salah satu club terbesar dan tersukses di kancah sepakbola Indonesia yaitu Persija bahkan juga legenda Sepakbola Nasional, bayangkan apa yang terjadi jika Ismed tetap bertahan di Persiraja? Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang lain, mungkin Ismed akan tetap menjadi pemain lokal dan tetap melokal hingga besok, jangankan juara main di liga 1 saja hanya bisa seumur hidup sekali.

Ada nama lain seperti Miftahul Hamdi yang berhasil mencicipi juara bersama Timnas dan Club di kasta tertinggi sepakbola Nasional juga “berawal” dari Persiraja, ada juga Nama Miswar Saputra yang masih eksis di liga 1.

Ada nama Zulfiandi dan TM. Ichsan dan Terbaru Rahmat Syawal yang juga kemudian eksis di sepakbola Nasional meski tidak lewat jalur Persiraja.

Lalu apakah keputusan meninggalkan Persiraja selalu berbuah manis? Tentu ada juga yang gagal, sebut saja nama Torres dan yang seangkatan dengannya yang meninggalkan Persiraja pasca kisah sukses promosi di musim 2018 yang lalu.

Tapi apa? Menunggu juara bersama Persiraja seperti yang dilakukan oleh Mukhlis Nakata adalah “mimpi” yang jauh dari kenyataan, setidaknya untuk kondisi persepakbolaan di Aceh hari ini, keberhasilan mempromosikan pemain lokal saja untuk melanjutkan karir di Sepakbola Nasional merupakan Prestasi tersendiri untuk Persiraja.

Aceh butuh pengusaha yang lebih “gila” dari Dek Gam untuk bisa berharap ada pemain Aceh yang juara nasional bersama Persiraja.

Selebihnya “Bertepuktanganlah untuk setiap perpisahan yang diucapkan oleh pemain lokal berbakat seperti Fahri, Madon, Revan, Muammar dan yang akan segera menyusu lainnya, do’akan saja mereka sukses di liar sana hingga mampu mengikuti jejak Ismed Sofyan.

Setiap pohon besar yang tumbang akan memberikan ruang untuk bibit baru untuk tumbuh dan berkembang, demikian kata orang bijak menyikapi seleksi alam dan proses regenerasi yang terus saja terjadi di sekitar kita.

Tidak ada nama Vini Jr, Jude Bellingham, Endrick dan bahkan Mbappe di skuad Real Madrid jika mereka tidak melepas Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema yang selama satu dekade memonopoli posisi di starting XI Real Madrid kala itu.

Tidak ada nama Marcelino Ferdinan dan Ramadhan Sananta jika Bambang Pamungkas masih memonopoli timnas Indonesia sepanjang karirnya.

Artinya apa? Tidak perlu di sesali setiap perpindahan pemain bahkan pemain terbaik sekalipun, apa lagi sekelas club lokal seperti Persiraja yang untuk eksis di liga 2 saja tidak ada yang bisa jamin, untung ada Dek Gam dan Rahmat Djailani di belakangnya yang sudah khatam bagaimana cara mengelola setiap tujuan yang harus dicapai pasti ada pengorbaban yang harus dilakukan.

Teruslah berkibar dengan segala keterbatasanmu Persirajaku, teruslah bertumbuh dan berkembang untuk anak negeriku, teruslah berlatih, berproses dan bertumbuh Revan Cs, akan ada lebih banyak Revan lainnya yang akan menyusul kalian sebelum Syeikh Mansur datang untuk membuat Persiraja menjadi club yang benar-benar serius berkompetisi untuk menjadi juara.(*)

Penulis: Ramadhan Al Faruq (Supporter Persiraja Berdomisili di Aceh Besar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *