Hari-hari ini kita dihebohkan oleh peristiwa-peristiwa amoral yang terjadi di dunia pendidikan, di dunia perguruan tinggi kita mendengar kabar tentang dugaan scandal Guru Besar Palsu, di mana mereka diduga mendapatkan gelar mulia tersebut dengan cara-cara tidak terpuji.
Belum pun kita bisa menarik nafas, lagi dan lagi kita disuguhkan dengan berita terkait dugaan perilaku negatif lainnya di dunia pendidikan yang lebih rendah, di mana diduga adanya perilaku manipulatif dalam kegiatan Assesmen Kompetensi Kepala Sekolah atau AKKS yang diadakan disdik Aceh untuk para kepala sekolah sebagaimana diberitakan oleh sebuah media online.
Sungguh dua berita buruk tersebut sangat menyesakkan dada, ini adalah pukulan telak yang sangat menyakitkan, yang langsung mengarah ke jantung lembaga di mana nilai-nilai moralitas itu di tanamkan kepada anak bangsa.
Syahdan, sebagai orang Aceh terkadang kita sering mendengar orang tua kita berkata _”Tajak sikula bek dipeunget le gop, ta jak bak beut bek roh ta pengeut gop”_ yang menyiratkan pesan pentingnya menuntut ilmu (jak sikula) sebagai modal intelektualitas agar kita tidak dikibuli orang dan juga pentingnya akhlak (jak beut) sebagai modal moralitas kita agar tidak mendhalimi dan menipu orang lain.
Ya, demikianlah manusia yang selayaknya dilahirkan oleh dunia pendidikan, yaitu manusia yang mapan secara intelektual, punya pemikiran dan pengetahuan yang mumpuni untuk menaklukkan dan menyelesaikan segala persoalan dalam kehidupan dan juga punya moralitas dan integritas yang baik agar kecerdasan yang ia miliki tidak menjadi masalah bagi dirinya dan juga tidak menimbulkan masalah bagi orang lain dalam kehidupan.
Pernyataan _”Tanpa Moralitas, Pendidikan Hanya Akan Melahirkan Monster Perusak”_ ini secara tegas menekankan tentang pentingnya moralitas dan integritas dalam pendidikan. Artinya dalam dunia pendidikan idealnya manusia tidak hanya dibekali dengan kemampuan dan pengetahuan semata, tapi juga ditanamkan nilai-nilai moral secara beriringan dan adalah suatu keniscayaan tentunya untuk melahirkan manusia yang punya integritas harus dilakukan dengan cara-cara yang berintegritas.
Secara tekstual dalam sistem pendidikan sekarang memang kita bisa menemukan istilah-istilah yang secara instruktif mengarah pengakuan akan pentingnya pendidikan nilai (moral), akan tetapi dalam kenyataannya kita menemukan realitas yang kerap berbeda, dunia pendidikan kita setiap tahunnnya melahirkan lulusan baik dari jenjang dasar hingga ke jenjang yang paling tinggi sekelas Doktor dan bahkan Profesor, tapi apa? Realitas di lapangan kita menemukan orang-orang yang dalam kehidupannya semakin brutal, semakin tak bermoral, semakin jauh dari nilai-nilai mulia yang seharusnya dipedomani.
Praktik-praktik culas seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang bertentangan dengan nilai moral terjadi di mana-mana, yang ahli dalam bidang IT malah menjadi penjahat “cyber” yang kerjaannya adalah membuat masalah demi masalah, yang bekerja di bidang hukum terus mempermainkan keadilan dengan berbekal ilmu yang dimilikinya.
Yang ahli di bidang ekonomi terus saja mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan bermodal ilmu ekonomi yang dimilikinya tanpa sedikitpun memperhitungkan mudharat orang lain, begitu juga dengan mereka yang ahli di bidang lainnya yang terus bekerja tanpa berpedoman pada nilai-nilai moral, yang pada akhirnya menyengsarakan ummat dan merusak tatanan kehidupan secara lebih luas.
Artinya tanpa moralitas, pendidikan hanya akan menghasilkan individu yang mungkin memiliki keterampilan dan keilmuan yang mumpuni (intelektualitas) tetapi tidak memiliki etika dan nilai-nilai (moralitas) yang diperlukan untuk menggunakan keterampilan tersebut secara benar dan bertanggung jawab.
Moralitas sangat penting dalam pendidikan dikarenakan hanya dengan menanamkan nilai-nilai moral maka upaya untuk mendorong lahirnya manusia yang cerdas juga baik dan berintegritas akan bisa diwujudkan, artinya dalam pendidikan yang dijalankan mereka bukan hanya dibekali dengan pengetahuan tetapi juga dibekali dengan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan keadilan.
Dengan berbekal nilai-nilai moral yang ditanamkan dalam proses pendidikan maka mereka akan selalu menimbang baik buruk dalam memanfaatkan dan menggunakan ilmu dan keterampilannya, sehingga pada akhirnya kecerdasan mereka akan bermanfaat untuk kebaikan, artinya dengan moralitas yang kuat, para lulusan dari lembaga pendidikan akan mampu dan mau menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk tujuan yang bermanfaat dan konstruktif, bukan untuk merusak atau menyakiti orang lain.
Pendidikan yang penuh dengan nilai-nilai moral juga akan mampu mendorong pengembangan tatanan masyarakat yang sehat dan baik, artinya ndividu yang bermoral akan mampu dan mau berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang adil dan harmonis. Mereka cenderung berperilaku dengan cara yang mendukung dan memprioritaskan kemaslahatan dan kesejahteraan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Dengan bermodalkan moralitas yang mumpuni upaya untuk mencegahan penyalahgunaan pengetahuan akan lebih dimungkinkan, sebaliknya tanpa moralitas, pengetahuan dan teknologi dapat disalahgunakan. Misalnya, teknologi canggih dapat digunakan untuk kejahatan cyber atau untuk menciptakan senjata yang merusak dan berbagai hal negatif lainnya.
Pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai moral juga akan membantu bangsa kita untuk keluar dari jurang jahannam korupsi, artinya dengan Pendidikan yang mengutamakan moralitas akan mampu membantu menciptakan individu yang tahan terhadap godaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan karena mereka akan selalu berpedoman pada nilai baik buruk dalam segala tindakannya, bukan sekedar untung rugi pragmatis semata.
Dengan demikian jelaslah bagi kita betapa pentingnya moralitas di dunia pendidikan, dengan adanya integrasi pendidikan moral ke dalam sistem pendidikan maka dunia pendidikan tidak hanya mampu melahirkan manusia yang cerdas secara Intelektual tetapi juga baik secara moral, dan sekali lagi adalah sebuah keniscayaan bahwa untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bermoral dan berintegritas harus dilakukan dengan cara-cara yang penuh integritas, yang jauh dari praktik-praktik manipulatif dan praktik koruptif serta praktik-praktik culas yang bertentangan dengan nilai moral lainnya.
Sehingga pada akhirnya dunia pendidikan kita akan mampu melahirkan manusia yang benar-benar menjadi _rahmatan lil’alamin_, bukan malah menjadi monster yang setiap hari, setiap saat menyengsarakan orang lain.(*)
Penulis: Ramadhan Al Faruq, Pemerhati Pendidikan Aceh












