Dalam beberapa hari terakhir dunia pendidikan kita sedang diguncang dengan dugaan scandal guru besar abal-abal, hal ini telah memantik protes dari berbagai kalangan yang menaruh perhatian dan hormat pada kredibilitas dunia akademik.
Berbagai opini, analisa bahkan protes dan pernyataan sikap pun satu persatu keluar untuk menunjukkan keprihatinan dan ketidaksetujuan mereka pada praktik culas yang sangat mencoreng kemuliaan dunia pendidikan tersebut.
Bahkan MDGB PTNBH sampai mengeluarkan pernyataan sikap bersama yang menggambarkan betapa para dewan maha guru tersebut sangat terusik dengan issu amoral yang sedang mencuat.
Tapi apa? Sebagai orang biasa, sebagai orang yang menaruh ekspektasi dan rasa hormat yang tinggi pada seluruh guru besar yang ada di negeri ini, tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa terima kasih atas semua kontribusi yang telah mereka berikan dalam membimbing ummat, ada pertanyaan besar yang ingin saya sampaikan ke hadapan para guru yang mulia terkait tanggung jawab dan eksistensi mereka sebagi penjaga etika dan pencerah ummat.
Apakah kepedulian dan respon sereaktif ini baru bisa ditunjukkan ketika kesakralan dan elitisitas mereka sebagai guru besar terganggu baru mereka bisa sebersatu dan sepeduli ini? Apakah mereka baru merasa penting untuk unjuk diri sebagai pribadi-pribadi yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral ketika ada pelanggaran moral di lingkaran “menara gading” tempat mereka bertapa dengan segala kenyamanannya selama ini?
Kenapa para guru besar itu terkesan diam saat perilaku bobrok terus dipertontonkan di negeri ini? Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme misalnya, mana suara mereka? Bukankah seharusnya para Guru Besar itu bisa memberikan suara kritis dan berteriak dengan lantang menentang praktik-praktik korup yang merusak tatanan sosial dan ekonomi. Mereka memiliki semua syarat untuk melakukan itu, baik menasehati penguasa maupun untuk mendidik generasi muda tentang pentingnya integritas dan etika.
Mana suara kritis dan pernyataan sikap bersama para guru besar yang mulai ketika praktik Jual Beli Hukum, persekongkolan mafia kapitalis dengan penguasa semakin merajalela, mana suara mereka? Mana tanggung jawab guru besar sebagai pengayom dan penerang kehidupan Ummat?
Bukankah dunia akademis, melalui penelitian dan pengajaran, dapat membantu menciptakan sistem hukum yang adil dan transparan. Guru Besar hukum khususnya seharusnya bisa berperan secara nyata melalui suara-suara kebenaran yang Tuhan titipkan (ilmunya) pada dalam memperjuangkan keadilan untuk ummat dan memberantas jual beli hukum.
Bukankah para guru besar yang mulia itu juga punya tanggung jawab besar untuk menyuarakan kebenaran sebagai intelektual dengan memberikan analisis kritis dan solusi terhadap permasalahan persoalan praktik bobrok persekongkolan mafia kapitalis dengan penguasa yang mengakibatkan persolan ekonomi dan politik yang kompleks di tengah kehidupan bangsa, seharusnya mereka baik secara personal maupun secara kolektif mampu menyuarakan kebenaran kepada masyarakat.
Ketika krisis moral di tengah masyarakat, Kesenjangan sosial semakin meningkat dari hari ke hari mana suara mereka? Bukankah seharusnya para guru besar yang mulia dengan segala teori tentang pendidikan moral dan etika yang diberikannya di ruang-ruang kelas ber ace di perguruan tinggi tempat mereka mengabdi mampu membentuk karakter generasi muda yang memiliki integritas tinggi. Bukankah seharusnya mereka di sana bisa mengajarkan dan memberikan contoh sikap yang penuh empati dan kepedulian antar sesama sehingga bisa mengurangi kesenjangan yang terjadi?
Ketika pendidikan yang semakin mahal dan Integritas pendidikan semakin buruk mana kepedulian dan tanggung jawab serta suara lantang mereka? Bukankah seharusnya para Guru Besar itu bisa bersuara lantang untuk memperjuangkan agar biaya pendidikan bisa lebih murah bahkan gratis? Bukan malah mereka diam bahkan bersepakat untuk menaikkan UKT memanfaatkan celah yang disediakan oleh peraturan pemerintah sebagaimana yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.
Bukankah para guru besar yang mulia juga perlu memperjuangkan akses pendidikan yang lebih merata dan berkualitas untuk seluruh warga negara dengan segala perbedaan kemampuan ekonomi yang mereka punya.
Bukankah para guru besar yang mulia dengan segala kehormatan dan integritas yang melekat padanya juga seharusnya terus bersuara kritis dan solutif untuk menjaga integritas dalam dunia pendidikan agar tetap menjadi lembaga yang dipercaya oleh masyarakat, sebagaimana yang mereka lakukan sekarang saat “kemuliaan” guru besar dipermainkan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Apakah harus dirampok kenyamanannya sebagai Guru Besar dulu baru bicara? Sebegitu naifnya? Sebegitu rendahnya moralitas guru besar?
Pun demikian saya bersyukur, Alhamdulillah akhirnya Para Guru Besar sadar akan tanggung jawab moral dan sosial mereka. Semoga ke depan mereka bisa terus aktif bersuara untuk menerangi ummat dalam berbagai forum untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan, bukan hanya di ruang-ruang kelas saja.
Dan sekali lagi harapan besar saya agar ke depan para guru besar yang mulia bisa kembali dan terus terlibat langsung dengan masyarakat melalui program-program pengabdian dan pembinaan terhadap kehidupan ummat secara nyata, bukan sekedar teori di dalam kelas saja.
Para guru besar juga sudah selayaknya bisa terus terlibat dalam pengembangan kebijakan yang berpihak pada kemashlahatan ummat dan menghindari kepentingan pribadi atau kelompok, baik dengan terlibat langsung sebagai bagian dari pemerintah maupun melalui suara-suara kritis mereka di hadapan publik melalui media massa.
Rindu sekali rasanya melihat para guru besar yang mulia terlibat aktif dalam membina ummat dengan terjun langsung ke masyarakat bukan hanya di ruang kelas, mereka hadir sebagai pencerah dan pembawa perubahan positif sebagaimana yang dicontohkan oleh Maha Guru Besar yang mulia Rasulullah SAW.
Mereka harus berani berbicara dan bertindak yang benar demi menyelamatkan bangsa dan kemashlahatan ummat secara menyeluruh secara konsisten sepanjang hidupnya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.
Bagi saya Guru Besar sejati adalah mereka yang dalam hidupnya senantiasa berbicara dan melakukan segala sesuatu dengan senantiasa berpedoman pada nilai-nilai moral yang diajarkannya.
Jika tidak maka ini akan sangat menyedihkan, Wajar Negeri ini makin porak-poranda, orang berilmu yang seharusnya bisa menjadi penerang ummat malah diam-diam bae sampai isi brangkasnya diobrak abrik oleh mafia.
Naif Sekali!
Penulis: Ramadhan Al Faruq, Alumni IAIN Ar-Raniry












