Habapublik.com, Sabang : Keterbatasan alat penyulingan minyak nilam menjadi keluhan utama petani di Gampong Bateshok, Kecamatan Sukamakmue Kota Sabang. Kondisi ini menyebabkan antrean panjang dan keterlambatan dalam proses produksi minyak nilam.
Penjabat Keuchik Gampong Bateshok, Mansyur AG mengatakan, tingginya antusias warga menanam nilam tidak diimbangi dengan ketersediaan alat penyulingan. Padahal produksi terus meningkat seiring bertambahnya luas lahan yang digarap masyarakat.
“Proses nilam itu berkelanjutan, tapi kami terkendala dengan ketel penyulingan. Sekarang masyarakat masih antre karena alat yang tersedia sangat terbatas,” ujar Mansyur, Selasa (5/8/2025).
Saat ini, hanya ada tiga unit ketel aktif yang digunakan bersama oleh sekitar 30 petani nilam. Dua di antaranya milik pribadi, sementara satu lainnya dimiliki kelompok dan belum mencukupi kebutuhan produksi.
“Bantuan alat tambahan memang sedang dalam proses, tapi kami harap percepatannya agar produksi tidak lagi terhambat. Ini penting karena luas lahan sudah mencapai 20 hektare dan produksi terus bertambah,” tambahnya.
Ia menjelaskan, sejak Agustus 2024 lalu, masyarakat mulai berbondong-bondong menanam nilam karena harga jual yang sempat tinggi. Namun saat ini, semangat itu mulai terganggu karena proses penyulingan yang tidak berjalan maksimal.
Minyak nilam hasil produksi petani dijual ke pengumpul di Banda Aceh, namun dengan harga yang kini turun menjadi Rp700 ribu per kilogram. Mansyur berharap Pemerintah Kota Sabang dapat memberi perhatian serius untuk menambah fasilitas penyulingan.
Dengan dukungan pemerintah, ia optimistis ekonomi masyarakat akan tumbuh, lahan tidur bisa dimanfaatkan, dan potensi nilam sebagai komoditas unggulan daerah dapat dikembangkan secara berkelanjutan.(*)












