Habapulik.com, Blangkejeren : Pagi itu, kabut masih menggantung di perbukitan. Lumpur belum sepenuhnya mengering. Luka banjir masih terbaca jelas di dinding rumah warga, di batang kayu yang tersangkut, di mata anak-anak yang kehilangan ruang bermainnya. Di tanah yang lama sunyi dari kunjungan pucuk kekuasaan negara itu, sejarah akhirnya mengetuk pintu.
Rabu (17/12/2925) Untuk pertama kalinya sejak Gayo Lues berdiri sebagai kabupaten, seorang Wakil Presiden Republik Indonesia menjejakkan kaki di wilayah ini. Gibran Rakabuming Raka datang bukan membawa kemegahan, melainkan keheningan empati—menyusuri jejak air bah, mendengar cerita kehilangan, dan menyapa duka yang belum reda.
Di Gedung BLK, tempat pengungsian sementara, suara lirih warga berpadu dengan derit lantai yang basah. Wapres duduk sejajar, mendengar tanpa menyela. Seorang ibu bercerita tentang rumah yang hanyut. Seorang petani menyebut sawahnya yang kini tinggal kenangan. Anak-anak menatap dengan mata besar—mata yang menyimpan tanya tentang masa depan. Tak ada jarak di sana. Yang ada hanyalah pertemuan antara wakil kepala negara dan warganya, tanpa sekat protokoler.
Langkah Wapres berlanjut ke titik-titik terparah: Aih Bobo dan kawasan lain yang dilalui air bah tanpa ampun. Di sana, tanah terkelupas, jembatan terputus, dan jalan berubah menjadi cerita tentang rapuhnya manusia di hadapan alam. Gibran berhenti, menatap, lalu berbincang dengan warga—seolah mencatat sendiri setiap luka yang tersisa.
“Kami datang untuk memastikan negara hadir,” ucapnya singkat. Kalimat yang sederhana, namun bagi warga Gayo Lues, terdengar seperti janji yang lama ditunggu.
Kunjungan ini lebih dari sekadar agenda kenegaraan. Ia adalah pengakuan—bahwa Gayo Lues ada, hidup, dan layak mendapat perhatian yang sama. Bahwa wilayah di sudut pegunungan Aceh ini bukan lagi catatan kaki dalam peta pembangunan nasional.
Hari ini, sejarah bukan ditulis dengan tinta emas, melainkan dengan lumpur, air mata, dan harapan. Di tengah reruntuhan pascabanjir, kehadiran Wakil Presiden menjadi penanda: negara akhirnya menyapa dari dekat.
Dan kelak, ketika luka ini mulai pulih, masyarakat Gayo Lues akan mengenang satu hari penting—hari ketika sejarah benar-benar turun ke lembah mereka.(*)












