Habapublik.com, Subulussalam – Harapan masyarakat di Kecamatan Penanggalan untuk menikmati air bersih secara merata masih terganjal kendala teknis yang serius. Meski Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jontor telah dinyatakan kembali beroperasi normal, sebagian besar pelanggan di beberþapa desa hingga kini masih mengalami krisis pasokan air ke rumah mereka, Senin 4 Mei 2026.
Persoalan ini berakar pada kondisi jaringan pipa yang mengalami kerusakan parah di berbagai titik. Banyak jalur distribusi yang ditemukan bocor sehingga tekanan air tidak mampu menjangkau pemukiman warga secara maksimal. Kondisi tersebut diperparah oleh dampak bencana alam yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Kejadian tanah longsor di Desa Cepu tahun lalu menjadi penyebab utama putusnya pipa transmisi utama. Akibat kerusakan permanen tersebut, aliran air yang bersumber dari Intake SPAM Jontor terhenti total untuk jalur-jalur tertentu. Hingga memasuki pertengahan tahun 2026 ini, penggantian infrastruktur vital tersebut belum juga terealisasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Subulussalam, Irman Suryadi, mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah tengah menyusun rencana untuk mengusulkan anggaran revitalisasi. Pembenahan total dinilai menjadi satu-satunya solusi agar layanan air bersih kembali normal sepenuhnya.
Langkah pengusulan anggaran ini merupakan respons atas desakan warga di Kecamatan Penanggalan yang mempertanyakan distribusi air. Sebagian masyarakat merasa perbaikan yang dilakukan beberapa bulan lalu belum menyentuh inti persoalan jaringan pipa di wilayah mereka.
Beberapa desa yang terdampak langsung di antaranya adalah Desa Dasan Raja, Desa Penanggalan, hingga sebagian wilayah Desa Cepu. Pelanggan di kawasan ini mengeluhkan bahwa air tidak kunjung mengalir meskipun operasional pompa dan mesin di rumah intake SPAM Jontor sudah kembali aktif.
Kekecewaan warga semakin dalam karena mereka pernah menjadi pelanggan aktif yang rutin mendapatkan pasokan air sebelum infrastruktur SPAM mengalami gangguan massal. Warga menilai, perbaikan parsial yang dilakukan sebelumnya tidak akan berguna jika jaringan pipa yang bocor dan putus tetap dibiarkan.
Sebelumnya, operasional SPAM Jontor sempat dihentikan total selama empat bulan, mulai 26 Agustus hingga 24 Desember 2025. Penutupan sementara itu dilakukan untuk rehabilitasi menyeluruh pada sarana, prasarana, serta perbaikan rumah intake guna meningkatkan kapasitas produksi air.
Namun, pasca-pekerjaan fisik tersebut selesai dan mulai beroperasi kembali beberapa bulan lalu, distribusi air tidak merata. Wilayah dari batas Desa Cepu hingga ke arah Jontor dilaporkan sudah menikmati layanan air tanpa kendala, namun wilayah di sisi seberangnya justru masih kering.
Dinas PUPR mengakui bahwa tanpa adanya penggantian pipa utama yang putus akibat longsor, distribusi air ke titik terjauh mustahil dilakukan. Kendala biaya menjadi alasan utama mengapa penggantian pipa tersebut tidak bisa dilakukan bersamaan dengan perbaikan rumah intake tahun lalu.
Salah seorang warga Desa Penanggalan, Darmin, berharap pemerintah bergerak cepat merealisasikan usulan anggaran tersebut. Ia mewakili pelanggan lama menginginkan ada kesetaraan layanan bagi seluruh warga yang berada dalam cakupan jaringan SPAM Jontor tanpa terkecuali.
“Sampai saat ini belum ada penggantian pipa sehingga belum bisa memberikan layanan air bersih secara maksimal bagi masyarakat. Kami mengusulkan revitalisasi ini karena memang banyak pipa yang bocor dan rusak akibat longsor tahun lalu,” kata Irman Suryadi menjelaskan kendala teknis di lapangan.(*)












